Diskriminasi LGBT

Postingan gue kali ini mau bahas diskriminasi LGBT. Kenapa gue nulis kaya gini. Inspirasi dari temen gue, sebut aja Ribas, namanya.

Jadi dia udah kerja tapi dia resign dari kantornya. Ya resign, dan tau alasannya apa ? Temen-temen kantornya tau dia gay dan dia didiskriminasi, dikucilkan sampe-sampe kaya ga punya temen di kantor. Oh, God why it’s happen. Yah, aslinya sih gue juga ga bisa nyalah-nyalahin siapa-siapa. Kalo dari temen gue emang dia itu discreet, cuma dia kurang tertutup, maksudnya harusnya dia sendiri menjaga identitasnya biar ke-gay-annya ga ketahuan sama bawahannya dan temen-temen kantornya. Tapi dia lupus juga, jadi singkatnya bawahannya tau dia gay dan gosip itu nyebar ke temen-temen kantor. Alhasil dia di kucilin sama temen-temennya.

Gue aslinya pengen bilang bangs** sama bawahannya Ribas.

Tiap orang punya privasi. Ok mungkin dia pasti punya dua tujuan, antara jatuhin atasannya itu *temen gue posisinya diatasnya atau memang dia homofobia sampe ngelakuin hal itu. Orang mana yang kalo kerja disindir-sindir, bahkan sampai rapat disindir, dan selalu di gosipin kaya gitu. Kalo lo hidup di kota macam Jakarta, dimana orang lebih individualis dan terbuka, it’s ok. Tapi kantornya temen gue itu ada di daerah pinggiran dan masih di penuhi orang-orang kolot yang masih ingin tau urusan orang.

Yah akhirnya temen gue jadi salah satu korbannya.

Gue jadi mikir, mungkin masih banyak diluar sana temen-temen LGBT yang menjadi diskriminasi sama orang-orang disekitarnya. Mungkin kalo lo gay, atau lesbian lo masih bisa discreet. Notok kalo usia lo udah tua banget belum nikah ditanyain kenapa belum nikah. Lama-lama ornag bosen tanya. Banyak kok orang-orang profesional, karir oke, mapan, tampang dan penampilan ga usah ditanya tapi ga pernah bawa gandengan lain jenis. Udah jelas mayoritas (ga semua tapi) pasti dia gay atau lesbian atau paling notok dia masih belum bisa move on dari mantannya. Lol.

Kerasnya hidup mungkin dialamin temen-temen transgender. Yak, secara terbuka mereka sudah mengkaui kalau mereka itu berbeda. Kenyataan paling pahit, mereka amat sangat susah mencari pekerjaan yang mau menerima pekerjaan sebagai transgender. Gue sendiri aslinya ga suka model transgender macam waria atau banci, ga tau kenapa feeling gue rada ga enak aja kalau deket mereka. Sorry banget yah, ini daripada gue boong. Tapi gue juga kasihan, akhirnya mereka cuma bisa jadi pegawai salon (ini masih mending), atau yang parah jadi pengamen, dan jadi penjaja seks pinggir jalan.

Emang susah juga hidup di dunia yang sudah semakin universal dan demokrasi kaya gini, ketika dibenturkan dengan agama. Lagi-lagi masalah agama itu memang hak masing-masing. Tapi agama masalah individual hubungan dari bawah keatas. Bukankah ketika kita punya prestasi memadai dan bisa membuktikan bahwa kita bisa dan kita tidak beda dengan kaum hetero lainnya, LGBT harusnya bisa diterima oleh masyarakat.

Tapi kembali lagi, ketika masih banyak masyarakat yang belum mau terbuka, susah menerima LGBT di masyarakat kecuali kota besar. Itu pun belum semua bisa menerima. Discreet dan melindungi privasi sendiri adalah langkah paling aman untuk menjaga keberadaan teman-teman LGBT.

Advertisements

One thought on “Diskriminasi LGBT

  1. You’d better to buy a new land and build your own country only for your LGBTQ community, I heard mostly your people are rich, so I guess it will be possible, right? I’m pretty sure problem will be solved and you’ll live happily ever after without any discrimination. I think UN, EU and USA will support you guys with this idea, to build new homeland only for LGBTQ.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s