(kembali) Tentang LGBT di Indonesia

LGBT- Word Cloud

Setelah postingan gue tentang Demam LGBT di Indonesia yang mengangkat artikel mahasiswa Psikologi dan tulisan Prof. Sarlito, maka kali ini gue rada kaget dengan adanya pemberitaan mengenai Saipul Jamil di media massa yang diduga mencabuli anak ABG dengan dugaan melakukan oral seks (sumber berita). Setelah adanya kejadian Indra Bekti, kemudian dugaan bahwa Jessica pembunuh Mirna adalah pasangan lesbian, semakin menyudutkan kaum LGBT di Indonesia. Banyak pihak yang secara tegas kontra dan menolak dengan dalih agama, tidak sesuai dengan norma dan sebagainya.

Gue sempat mengobrol dengan teman-teman normal, dan kebanyakan mereka melihat LGBT adalah kaum yang agresif, posesif terhadap pasangan dan bahkan sering dikaitkan dengan kasus pembunuhan dan semacam itu. Disatu sisi gue bukannya tidak mau membela, tetapi tekanan dari lingkungan yang “melihat saya sebagai pria normal” harus bertingkah normal juga dan dilarang mendukung LGBT hanya bisa bersikap “polos” dan tidak paham mengenai perilaku mereka. Dilematis memang. Sangat dilematis.

Ditambah dengan pemberitaan media yang amat sangat tendensius. Seperti dikutip dari artikel Viva News, Survei: Ada 5.791 Pria Gay di Depok Gay berkumpul di pusat perbelanjaan dan mencari mangsa di toilet umum. Pemberitaan media seperti ini, kalau orang awam hanya membaca judulnya (apalagi banyak yang saat ini hanya melihat headline berita di twitter) maka hanya akan terlintas bahwa kaum gay begitu banyak dan mereka suka “jajan” di toilet-toilet. Sangat memojokkan kaum gay. Meskipun ada berita klarifikasi pemberitaan tersebut, KPA Kota Depok Klarifikasi Soal Pria Gay Intai di Toilet KPA membantah pernah menyebut pria gay mengintai di toilet umum tetap saja pemberitaan pertama adalah penghakiman paling menyakitkan. Simplenya, siapa peduli ada berita klarifikasi, orang awam hanya tau gay itu makin banyak dan mengintai di toilet-toilet umum.

Meskipun begitu, gue cukup bahagia dengan pernyataan Koh Ahok (sumber berita),“Yang jelas dari zamannya nabi dulu sudah begitu, dari cerita Ibrahim dan Luth sudah begitu,”.  Menurut pendapat gue pribadi, secara tegas Ahok tidak melarang komunitas atau perilaku gay karena memang sulit dibendung dan meskipun salah, pada dasarnya gay adalah sama saja dengan perilaku korupsi yang sama salahnya. Tetapi kita tidak bisa menjudge perilaku mereka dan mendeskriminasikan LGBT. Kewajiban negara adalah mencegah agar tidak terjadi penularan HIV/AIDS karena perilaku tersebut. Sebagai catatan, jumlah penderita HIV/AIDS adalah Ibu Rumah Tangga (kemungkinan besar tertular dari suaminya). Faktor risiko penderita HIV/AIDS sendiri juga berasal dari kaum heteroseksual (61.5%), bukan homoseksual (hanya 2.4%). Gue dapat angka tersebut dari data Depkes, teman-teman bisa mengaksesnya disini.

“Sekarang siapa yang enggak pernah buat salah? Yang penting bagi kami jangan sampai terjadi penularan HIV/AIDS, karena terjadi sesuatu seperti ini. Karena di kalangan mereka juga banyak sekali ditemukan seperti ini. Bagi kami adalah mencegah itu,” sambung Ahok.

Kemudian dikutip pernyataan dari Ernest Prakasa,

Jadi, apakah menurut saya homoseksualitas itu dosa? Jelas iya.

Lalu apakah saya lantas menganggap mereka LEBIH HINA? JELAS TIDAK.

Bagi saya, menuding hina seseorang karena ia homoseks bagaikan seorang bodoh yang menertawakan orang lain yang belepotan lumpur, padahal mereka berkubang di kolam yang sama.

Kiranya Tuhan mengampuni kita semua.

Sumber : Blog Ernest.

Advertisements

One thought on “(kembali) Tentang LGBT di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s