Married alias Nikah

Kapan nikah?

adalah pertanyaan paling menakutkan buat gue dan mungkin buat sebagian gay-discret-in-real-life.

Seminggu kemarin gue drop sakit. Mungkin ceritanya berawal dari migrain gue yang kambuh dan hampir seminggu nggak sembuh-sembuh. Ditambah pas gue pulang ke rumah tercinta, pada kesempatan kali ini Nyokap dengan sukacita mendesak gue buat cepetan menikah.

Alhasil gue balik ke kota perantauan dengan perasaan yang merasa terintimidasi dan pengen cepetan keluar rumah dan ga balik lagi. Iya, gue emang orangnya rada sensitif-an dan pemikir. Jadi kalo ada masalah di rumah bikin gue ga nyaman bisa bikin gue pusing dan kepikiran.

Tuhan, jujur gue bingung. Umur gue yang sudah 26 dan semakin mendekati umur 27-30. Dimana umur segitu adalah batas umur seorang pria buat nikah di Indonesia. Tetangga gue aja, pada mulai nikah diumur 23-24 tahun. Kalau gue boleh jujur gue pengen jadi kaya hetero lain yang doyan dan napsu liat cewek. Atau kalau memang keadaan ga bisa diubah, gue pengen jujur aja ke keluarga gue kalau gue ga bakalan nikah sama cewek.

Tapi, inilah hidup. Akan selalu ada masalah.

Apalah arti hidup tanpa masalah.

:):

Gay Wedding Kiss

 

Bisakah Gay Menikah?

hH

Sumber : Pinterest

Eid Mubarak!

Selamat  merayakan hari nan fitri!

Maaf ya kalo selama baca blog gue ada yang marah, tersinggung, jengkel, kesel gara-gara baca blog gue.Maap lahir batin.

Wah kenapa nih gue mendadak jadi agamis gini.Jadii momen lebaran adalah momen istimewa buat seluruh keluarga berkumpul. Bukan cuma keluarga muslim aja yang kumpul, momen lebaran tahun ini yang bertepatan dengan libur panjang anak sekolah, ditambah adanya cuti libur dari kantor, membuat sebagian besar orang mudik pulang kampung buat bertemu sama keluarganya atau malah mudik ke kota  dari kampung buat ketemu keluarganya. Memang gak semua orang bisa menikmati  berkumpul dengan keluarga, Puji Tuhan gue bisa kumpul  tiap  tahun disaat liburan lebaran ini.

So, ngapain aja sih biasanya kalo kumpul lebaran?

Paling umum adalah bertanya basa basi “KAPAN?”

pertanyaan-tanpa-akhir1

Momok yang buat sebagain besar kaum seperti  kita paling malas buat menjawab adalah PACAR SIAPA SEKARANG, atau KAPAN NIKAH. Ya, pertanyaan yang kadang gue sendiri bingung menjawabnya. Pengen dijawab, iya nikah. Nikah sama LAKIK. *besoknya dipecat jadi anak*

Capek sih dengan pertanyaan gak penting kaya gitu. Gue sendiri akhirnya ngeles, alibi belum mapan lah, alibi pengen S2 lah, alibi pengen nyenengin diri sendiri dulu lah, dan macem-macem alesan.

So, ada gak sih sebenarnya solusi buat kaum gay buat menghentikan jawaban itu? Gue mau coba share aja nih ya.

  1. Lo bisa coba buat deketin cewek, dan nikah. Beruntung buat kamu biseks, kenal dan dekat sama cewek adalah solusi paling konkrit yang berujung lo nikah sama tu cewek. Selama lo masih nafsu sama lain jenis, masih bisa menikah dan punya keluarga,seperti keluarga normal lainnya. Bahagia? Beberapa orang gue liat bisa bahagia dengan keluarganya. Tapi, gak sedikit juga yah kaum biseks yang masih asik main dengan sesama jenis diluar rumah mereka. So, bisa jadi solusi? Menurut gue, sebagai kaum ke-Timur-an yang mengaku beragama, menikah adalah salah satu usaha buat menjalankan kewajiban agama dan membahagiakan keluarga. Meskipun gak sedikit juga yang malah menderita setelah berkeluarga. Cek aja di berita, ada berapa keluarga yang bunuh diri, membunuh istri, atau suami  atau malah orang tua mereka gara-gara ketidakharmonisan keluarga mereka.
  2. Menikah dengan pasangan sejenis lo. Kalau udah terbuka dan coming out, lo bisa kenalin pacar atau pasangan lo. Bisa mengikat hubungan kearah serius, dengan menikah di luar negeri atau sekedar  tunangan aja. Tapi perlu dicatat, kalo lo  lakuin hal ini kalau emang udah beneran coming out dan udah siap budeg gak dengerin omongan orang lain termasuk keluarga besar lo. Kalau lo gak siap dengan konsekuensi dinyinyirin, diomongin orang dan keluarga, sampe dihindari keluarga mending poin ini dicoret dari hidup lo.
  3. Bersikap budeg dan ngeles kalau lo belum ada rencana nikah dalam waktu dekat. Sikap yang gue ambil, pura-pura cuek, bodoh dan gak dengerin orang lain sama sekali. Alesan aja belum punya pacar. Belum mapan. Mau lanjutin pendidikan S2 atau S3.  Masih mau nyenengin ortu. Masih mau travelling, buat diri sendiri. Dan seribu alasan lain. Toh, lo ketemu keluarga setaun sekali kan? Kalau tiap hari ya udah. Mending diem aja kalau ditanya, cukup SENYUM SEMANIS mungkin.
  4. Coba menikah dengan pasangan yang mengalami hal yang sama. Sedikit gila sih, tapi kalau emang lo itu gay coba nikah sama lesbi. Kalau lo lesbi cobalah nikah sama gay. Jadi normal? Ada dua akibatnya. Lo bisa jadi normal seutuhnya atau yah lo berdua sama-sama tahu dan menikah cuma jadi alibi keluarga biar keliatan punya pasangan nikah. Selama nikah lo bisa tetap bebas menjalin hubungan dengan pasangan diluar sana. Jahat? Mungkin sih, tapi  dulu banget gue pernah liat ada lesbi yang mencari pasangan gay buat dijadiin pasangan nikah kontrak.

So, lo boleh share gimana pengalaman ditanya “KAPAN” selama bertemu keluarga atau sodara.

Pro Konta LGBT

Labels are for ClothesHabis postingan gue kemarin tentang Demam LGBT di Indonesia dan (kembali) Tentang LGBT di Indonesia gue mau nulis postingan tentang pro kontra LGBT di Indonesia. Sekali lagi, referensi gue tentang LGBT dikit banget. Gue baca sih beberapa sumbernya, cuma gue nemu nih tulisan yang bagus dan menurut gue bisa diterima dengan sumber yang terpercaya.

Jadi, kali ini gue nemu lagi tulisan dari Mba Wuwun, seorang psikolog tulisannya tentang LGBT : Antara Pro dan Kontra.

Empat huruf yang lagi booming dan cocok untuk menjadi judul tulisan.

                          Image result for lgbt

Lesbian Gay Biseks Transeksual. Empat kata ini juga yang mampu membuat saya mengetik di blog ini lagi sebagai tulisan pertama di bulan Februari 2016. Entah kenapa, kadang saya lupa bahwa blog ini adalah rumah yang cocok untuk menuangkan uneg-uneg.

Betul ini judulnya uneg-uneg. Setiap hari di telephon gengam, ting tung ting tung obrolan by whatsap, Facebook, Twitter sosial media yang sering kali menjadi tempat orang curhat, caper dan bermodus exist. Oleh sebab itu tambah lama seperti malah dirasa seperti sebuah kontrol sosial dalam bentuk yang baru. Sudah nggak enak lagi untuk tempat bicara, terutama bicara tanpa harus takut dihakimi. Kenapa ya, ada kecenderungan sebuah topik menjadi hal yang sensitif dan berkubu-kubu? Setelah soal agama yang mengikuti serangan teroris sekarang ngomongin LGBT ini juga penuh dengan opini yang berat sebelah. Seolah-olah tidak ada ruang netral lagi.

Kamu pro atau kontra? Celakanya yang pro LGBT sering kali dihubungkan dengan sikap mendukung perluasan komunitas ini. Lalu terkait dengan aktifitas para homo gay tersebut yang dianggap seperti pedophilia dan bertujuan membuat sebanyak-banyaknya kaum hetero menjadi homoseksual. Bila homoseksual adalah negatif, maka yang pro lgbt dianggap negatif ya? Tentunya…

Salah satu sikap kontra yang paling sering muncul adalah pandangan bahwa lgbt adalah penyakit dan perlu disembuhkan. Itulah yang membuat saya yakin bahwa saya tidak kontra. Bagi saya, kaum mereka itu adalah sama saja dengan makhluk yang lain. Cara berpikir sama, cara makan sama, kebutuhan sama, dan sikap sosial yang sama saja dalam berteman dsb, hanya saja mereka lebih memilih sesamanya. Lalu, betulkah mereka penyakit? Sudah sejak belasan tahun lalu, LGBT tidak lagi tergolong dalam Gangguan kejiwaan. Oleh WHO maupun DSM yang menjadi panutan psikolog dan psikiater Indonesia, sudah masuk ke dalam orientasi seksual saja. Jadi secara ilmiah dan formil, mereka bukan tergolong ber’penyakit’. Dari sini sebenarnya inti perdebatan soal LGBT. Orang-orang yang ngotot mereka adalah penyakit, sangat yakin bahwa kaum ini bisa disembuhkan, which is, back to hetero. Orang-orang golongan ini sangat pasti bahwa penyebab LGBT adalah lingkungan.

Namun, pertanyaannya adalah lingkungan yang seperti apa? Seolah-oleh orientasi seksual seperti latah, yang bisa di drill terus menerus atau sekedar ikut-ikutan karena gaya hidup. Bagi saya, seharusnya mereka berpikir lebih jauh lagi, back to basic, kata seksual, – dipersingkat – seks. Orientasi dihubungkan dengan dorongan. Apakah dorongan seksual bisa dibelok-belokkan semudah itu? Mari kita berkaca. Saya perempuan. Saya tahu saya ogah lihat dua perempuan ciuman. Sama sekali nggak horny liat perempuan telanjang, apalagi kalau telanjangnya dengan sengaja sekamar. Yang ada saya pura-pura nggak lihat. Saya sering berpikir bila di dunia ini tidak ada laki-laki yang available, saya mending jadi jomblo daripada jadi lesbi. Nah, kalau laki-laki akan lebih kelihatan lagi. Apakah dia bisa ereksi dengan lawan jenis? Kalau dia nggak nafsu, sampai kapan pun, dia itu adalah homo sejati. Di sini kita sudah tidak boleh mencampurkan antara homo, lesbi dan biseks.

Ngomong-ngomong, melantur dikit ke khusus soal biseks. Banyak golongan kontra LGBT bahkan nggak tahu bedanya homo, lesbi dan trans. Mereka juga kadang lupa memasukkan biseks dimana, atau lalai memikirkan keberadaan biseks. Biseks dicampur dengan homo dan lesbi. Buat saya  biseks sebaiknya dicoret dalam diskusi karena cuma bikin repot. Secara sosial, biseks ini tidak akan banyak bermasalah dalam masyarakat. Kata Bi, jelas-jelas menunjukkan bahwa dia homo sekaligus hetero. Jadi kaum biseks  bisa saja nikah dengan lawan jenis dan bisa punya anak. Urusan dia punya pacar sejenis di belakang, urusan sembunyi-sembunyi saja. Lebih jauh lagi, biseks ini mungkin yang membuat rancu, pada saat seseorang yang merasa homo ternyata bisa jatuh cinta dan nafsu dengan lawan jenis. Saya barusan saja bertanya, jangan-jangan kaum kontra yang yakin bahwa homoseksualitas bisa dibelokkan adalah karena kasus mereka biseks yang saat awal konsultasi hanya mengenali diri dari segi homonya?

Nah, lanjut lagi soal nafsunya… si nafsu ini sebetulnya adalah istilah simpel yang berkaitan dengan pandangan asal mula penyebab homoseksualitas. Kaum kontra yakin bahwa homoseksualitas lebih karena bentukan lingkungan dan bukan biologis. Kaum pro yakin bahwa homoseksulitas lebih kuat di faktor biologis. Secara keilmuan, sejauh yang saya tahu masih tidak ada penelitian yang menjelaskan secara gamblang dimana presentase yang paling besar. Tapi Anda boleh menyangkal saya, karena biarpun saya psikolog, saya tidak berkecimpung di dunia konseling klinis. Namun sebelum menepis semua pemikiran saya, tolong teliti kembali acuan yang Anda pakai, karena percayalah, saat ini banyak psikolog yang memanfaatkan situasi. Sama seperti profesi lain, tidak semua psikolog kompeten dalam bidang ini. Bila keseharian dia ngurusin seleksi pegawai atau ngomongin tingkah laku artis, sudah deh, belum tentu dia punya waktu baca tentang LGBT yang ilmiah. Banyak di antara mereka bahkan kelihatannya nggak punya kontak sama sekali dengan kaum ini. Jadi anggap saja saya sama dengan psikolog yang asal bunyi, tapi saya berani bertaruh, paling tidak, belum ada peneliti Indonesia yang melakukan penelitian ilmiah dengan metode yang benar tentang seluk beluk penyebab homoseksualitas.

Dengan dasar kenihilan segi keilmiahan, saya hanya akan bercerita dari segi pengalaman saya. Saya dikeliling kaum gay dan lesbi sejak tahun-tahun pertama kuliah. Beberapa sahabat saya sampai sekarang pun ada dari kaum ini. Saya mengikuti perkembangan kehidupan mereka bertahun-tahun. Dalam psikologi, mungkin bisa digolongkan dalam longitudinal reseach. Semua dari mereka mulai menyadari bahwa mereka hanya tertarik dengan lawan jenis sejak mereka masih kecil, sekitar di Sekolah Dasar. Kuatnya dorongan ini meningkat saat memasuki SMP. Yang lesbi, berkata bahwa ada desiran saat di ruang ganti olah raga. Yang gay, malah lebih jelas lagi. Hampir semuanya mencoba pacaran dengan lawan jenis karena begitulah norma di Indonesia. Tetapi mereka mengaku tidak ada perasaan apapun. Satu teman gay saya pernah cerita bahwa hal yang dilakukan dengan mantan gadis-gadisnya paling-paling memegang payudara mereka tetapi dia tidak terdorong untuk melakukan ciuman. Dari sini bisa dilihat bahwa ketertarikan seksual muncul dari dalam dirinya, toh si pacar sebetulnya tidak akan menolak untuk macam-macam, kalau tidak mana boleh payudaranya dipegang? Sebelum akhirnya coming out, mereka biasanya pernah berusaha jatuh cinta dengan lawan jenis. Teman lesbi saya itu malah pernah betul-betul goyah, benci dengan dirinya karena sebagai kristian yang taat dia merasa berdosa dan pernah bimbingan dengan pendeta. Tapi ya tidak bisa. Di Prancis ini saya punya teman yang mengaku bahwa aslinya dia adalah lesbi tetapi lalu menikah. (catatan, perempuan lebih mudah tunduk pada tekanan sosial dan karena posisi seksual bisa pasif jadi bisa lebih tertutupi). Dia bilang suaminya baik dan mereka hidup bahagia dengan cucu-cucu mereka. Namun si nenek ini berkata bahwa dari segi seksual dia tidak pernah mengalami kepuasan, semua semata demi si suami. Jadi saya kasih tahu ya.. teman saya ini nenek-nenek dan menikah sudah puluhan tahun, tidur seranjang, apakah masih bisa dikatakan bahwa dorongan seksual itu bisa dibelokkan? Atau jangan-jangan suaminya kurang ganteng haha.

Kaum kontra yang percaya dorongan seksual bisa dibelokkan, bertindak lebih jauh lagi. Ingin menterapi semua homoseksual supaya menjadi hetero. Boleh saya tanya, bagaimana wujud terapinya? Salah satu kerabat saya bilang, harus si pelaku punya motivasi berubah. Ok. Lalu? konseling secara menyuluruh. Ok masuk akal. Lalu yang dorongan seksual? Katanya pakai terapi hormon. Hmmm… what kind of hormon? Sampai sini kita belum bicara tentang Transeksual. Kaum kontra disinyalir melupakan detil bedanya homoseksualitas dengan transeksual. Homoseksualitas, pelaku merasa seperti tampilan fisiknya. Homoseks merasa dia laki-laki, seperti lesbian merasa  perempuan. Sedangkan transeksual, mereka merasa tubuhnya tidak sama dengan identitas gender. Makanya mereka berusaha merubah penampilan fisik. Setahu saya hormon dipakai dalam kasus ini. Waria menyuntikkan hormon Estrogen supaya kulitnya halus, pita suara melembut, dan bulu-bulu berkurang. Jadi hormon adalah untuk penampilan fisik. Kalau ketertarikan seksual, dimana letaknya, itu jadi pertanyaan saya. Karena secara lebih dalam, homoseksual dan lesbian, mereka juga punya pengolongan. Misalnya dalam lesbian ada yang menjadi ‘pria’ alias buchi, atau femme alias ‘perempuannya’, Lalu terapi hormonnya, gimana? Yang buchi dikasih hormon untuk jadi lebih perempuan.. maybe.. kalau yang mau insaf yang femme, apa terus dikasih hormon laki-laki?

Selain soal terapi, Diperbincangkan juga tingkah laku kaum homo yang seolah mengekspos dan mengajak masyarakat menjadi homo, terutama kalangan anak kecil. Menurut saya, ini lagi-lagi pencampur adukan berbagai hal. Perilaku homoseksual yang menjadikan anak kecil sebagai objek seks, tidak bisa hanya ditarik garis dari sisi homoseksualitasnya, tetapi harus lebih menyorot aspek pedophilia. Pedophilia inilah yang merupakan tindakan kriminal. Seperti halnya di negara barat, pedophilia bisa dihukum penjara. Bila di Indonesia, masih ada satu dua orang yang menikahi anak-anak dibawah umur dan bisa lolos dari hukum, akan sama saja, hetero maupun homoseks yang menyebarkan perilaku seks tidak pada tempatnya.

                                          Image result for seksual

Saya pribadi percaya, orang-orang yang terhitung LGT (sepertinya sudah sepantasnya saya hilangkan huruf B) merasakan beratnya hidup sebagai kaum mereka. Dengan demikian, mereka tidak berkeinginan untuk mengajak yang  hetero pindah orientasi seperti mereka (seandainya orientasi seksual mudah dibelokkan). Sebuah percakapan dengan satu sahabat saya beberapa tahun lalu setelah kelahiran anak laki saya satu-satunya:
“Lo tahu betapa sayangnya gue sama elo. Gue dukung cara hiduplo mau gimana pun. Gay atau bukan, lo sama di mata gue. tetapi kenapa ya, jangan marah.. terkadang gue berpikir bahwa gue nggak kepingin anak gue ini jadi gay. Kayaknya gue nggak tahu harus seperti apa bila itu terjadi…”
Jawabannya justru membuat saya lega:
“Nggak usah merasa bersalah. Ibu gue juga pasti ingin punya anak hetero. Gue pun kalau dalam posisi lo, akan berharap hal yang sama agar anak gue hetero. Itu pasti karena berat hidup seperti ini.”

Pernyataan hidup mereka berat apakah juga sesuatu yang lebay? Terlepas dari judgement bahwa itu pilihan hidup mereka, sebagai homoseksual dan transeksual memang bisa terdeteksi dengan mudah letak kesulitannya. Bayangkanlah bila kamu berbeda dari orang-orang di sekitar kamu, jelas-jelas kamu akan dihujani oleh pandangan menyelidik. Kamu jadi harus bertingkah secara ‘proper’. Menahan diri untuk mengetahui batasnya. Penerimaan kaum ini meskipun di dunia barat masih belum merata. Dari pernyataan beberapa orang kenalan, di Prancis yang sudah melegalkan perkawinan sejenis sejak tahun 2014, tetap saja ditemui homophobie. Sikap kurang berkenan masih kerap di temui di kota kecil atau desa. Memang hukum melindungi hak mereka, tetapi sebagai makhluk yang hidup di dunia sosial pasti perlakuan sekitar akan masuk ke dalam hati. Secara natural pun, kaum ini relatif lebih ‘stagnan’ dalam tahap-tahap hubungan, aka kehidupan secara keseluruhan. Terdapat level yang membedakan sedikit, misalnya lesbian masih bisa memiliki anak biologis bila melalui in vitro. Homoseksual tidak bisa. Kebanyakan mereka memelihara anjing sebagai ‘anak’. Hal ini masih terus menjadi perdebatan dari segi legalitasnya di manapun, termasuk negara yang melegalkan perkawinan. Oleh sebab itulah, para kaum ini terlihat tidak ‘dewasa-dewasa’. Kehidupan mereka memang cenderung seperti single seumur hidup, meski dalam keadaan berpasangan. Salah satunya lebih menonjol dalam dunia ‘ke-fisik-an’.

Pada akhirnya, pantaskah kita kontra? Atau justru kita sebenarnya pro? Di sini, muncul pertanyaan baru, apa definisinya pro dan kontra? Sebatas mana pro dikatakan pro? Apakah sikap yang menerima keberadaan lgbt, ataukah mendukung perluasan komunitas ini ataukah sampai pada dukungan pada sistem hukum pernikahan sejenis? Bagaimana bila orang itu menerima keberadaan LGBT tetapi tidak memandang perlu pernikahan sejenis ada. Orang ini masuk golongan apa? Lalu si kontra, sejauh mana bisa dikatakan kontra, sekedar tidak suka bila sampai ada tindakan perluasan spt ke anak-anak (aka pedophilia), atau mendukung orang yang ingin jadi hetero atau justru sampai yang ekstrim, menganggap lgbt penyakit? Pengolongan yang tidak jelas, akan membuat kubu-kubu dengan pertarungan yang abstrak. Seperti sebuah link yang isinya sama tetapi penulisnya ditulis berbeda, dua duanya dengan bergelar psikolog – pasti hoax. Sama halnya dengan forum diskusi (yang sering menjadi debat), dengan kutipan masing-masing dari tokoh yang mendukung pandangan mereka, misalnya yang TV One itu, pakar religi mengutip Einstein tentang ilmu pengetahuan tak lepas dari agama. Nanti bisa saja, kubu lain mengutip Sigmund Freud yang menyatakan pada dasarnya semua manusia adalah biseks. Pada level ini, lgbt bukan suatu bahasan objektif, bisa saja berselubung nuansa ilmiah tetapi lebih mengarah pada propaganda. Ayo masukkan LGBT kembali dalam golongan gangguan jiwa, ayo sembuhkan semua mereka. Ini bukan diskriminasi, tetapi mereka yang tak ingin sembuh adalah orang-orang yang tak pantas hidup di Indonesia.. hayoo… Ayo kasih lgbt pernikahan legal karena bla bla bla. Padahal kebanyakan LGBT mungkin hidup tanpa disorot saja sudah senang kok.

Masing-masing berhak bersikap, tentu saja. Sesuai dengan nilai dan kehidupan pribadi. Saya sendiri tidak tahu masuk golongan pro atau bukan. Dari kacamata pribadi, saya melihat saya netral atau abstain. Yang pasti saya menerima keberadaan mereka namun mendukung terapi bagi yang ingin menjadi hetero (cat: ada kata ingin, tetapi bukan sesuatu yang dipaksakan) Dan sebagai ibu, saya tidak juga ingin penyebaran LBGT ini, bila memang ada upaya ke situ. But above of all, saya pribadi yakin bahwa penyebaran tidak semudah itu. Bayangkan apa jadinya negara barat, seperti Prancis ini dimana homoseksual dan transeksual bisa menikah di gereja, kenapa tidak semua orang menjadi homo? Lagi-lagi, soal pilihan dan ketertarikan seksual.

Sikap individu ini di Indonesia cukup didominasi agama. Banyak yang menyakini bahwa agama bisa membuat yang homo menjadi hetero. Betulkah?

Kembali saya cuma mengajak kritis saja. Agama yang mana? Apa definisi agama di sini? Cangkupannya apakah hanya Islam dan Kristen? Tidakkah di Indonesia, agama ada enam. Hindu, Budha, Konghucu apakah juga menentang?

Dari situ harus diluruskan dulu. Karena kalau kita bicara secara umum haruslah umum, tidak hanya sebenarnya mewakilkan satu atau dua saja. Sejujurnya kata agama yang sering di pakai di Indonesia, menyempit mengacu pada agama besar, Islam dan Kristen, Mungkin saja memang bisa, saya tidak tahu. Saya sendiri hanya tahu teman saya yang dulu itu. Dia ‘berobat’ pada pendetanya. Motivasi berubahnya besar sekali tetapi tetap tak bisa. Ada satu teman lainnya yang gay tetapi berasal dari keluarga Islam taat. Saya tahu persis dia gay karena saya bisa menyebutkan nama pacar prianya yang pernah secara sembunyi ada. Nah, si teman saya ini sampai sekarang pun masih single padahal gantengnya minta ampun dan pintar. Saya lihat dia sekali-kali muncul ke publik dengan ‘pacar’ perempuan. Tapi saya tahu dia akan begitu saja. Lagipula, kalau kita mau jujur, dalam lingkungan agama yang terdalam pun, dalam gereja sesekali terdengar kasus pendeta gay, seperti yang dikirim Prancis tahun lalu ke Vatican. Atau di negara Islam, Afganistan etc, ada fenomena bici baca. Saya tidak menyangkal kemungkinan agama bisa mengerem munculnya perilaku homoseksualitas atau transeksualitas, tetapi saya kurang yakin bila agama masuk dalam faktor utama.

Sebagai penutup, saya minta maaf bila saya malah bikin semua jadi abu-abu. Saya memang paling suka mengajak berpikir dan kurang tertarik dengan propaganda. Pikiran saya hanya biarkan saja LGBT seperti yang ada. Jangan kita melakukan generalisasi sampai kehilangan inti permasalahan. Bila yang ditakutkan adalah penyebaran dan masa dengan anak-anak, maka kasusnya beralih dari LGBT ke pedhopilia. Urusan penerimaan, silahkan diterima atau anggap mereka tidak ada. Tidak perlu melakukan gerakan besar-besaran dengan memasukkan golongan ini kembali ke kategori lama sebagai gangguan psikologi. Karena siapa yang mau membiayai mereka semua melakukan pengobatan ke psikolog dan psikiater? Berapa banyak psikolog dan psikiater yang kompeten dalam hal ini? Bila kondisi tidak siap dengan konsekuensi ini, malah pengolongan resmi ke dalam ‘gangguan’ hanya akan membuat sikap judgmental lingkungan. Sekarang saja hidup mereka sudah banyak yang sembunyi-sembunyi akibat ketidak nyamanan, mau diapakan lagi? Tidak perlu memang dipaksakan adanya pernikahan sejenis jika masyarakat tidak siap, cukup misalnya mengakomodir kebutuhan prisipal mereka untuk hidup tenang, misalnya pasangan LGBT ini bisa mendaftar agar dalam hal medis bisa diperlakukan seperti pasangan. Ini contoh bagi yang belum pernah mendengar: bahwa dalam tindakan medis, saat satu pasangan tidak sadar, maka pasangan lain tidak berhak karena bukan suami istri dan tidak ada hubungan darah. Ini concern yang cukup penting sebagai manusia.

                                         Image result for lgbt

Kalau tetap saja bersikap tidak mau peduli dengan mereka, sebaiknya jangan terlalu kontra. Kenapa? Karena tambah kontra suatu masyarakat, komunitas LGBT akan semakin tertekan dan termarginal. Lalu bantuan akan datang dari Internasional. Bagaimanapun LBGT ini secara hukum internasional sudah tidak dianggap gangguan atau penyakit, jadi atas nama HAM pasti akan terbantu. Sekarang saja salah satu asosiasi internasional dibawah Unesco sudah mengucurkan 101 M bagi komunitas LBGT di Asia agar bisa hidup lebih maksimal. Nah, silahkan kalian sendiri yang tentukan, mau tetap kontra atau tambah kontra atau mengurangi kadar kontra? Tambah kontra, bantuan akan lebih banyak datang. Nanti malah gondok sendiri….

Sambil copy paste tulisan Mbaknya, saya kembali lagi membaca. Tulisan yang menarik, dari salah seorang psikolog Indonesia yang lama tinggal di Perancis. Bahkan untuk negara Perancis yang sudah melegalkan pernikahan sejenis, homofobia masih kerap terjadi di masyarakat. Pro kontra terjadi karena melihat LGT dari dua sisi, produk lingkungan, atau biologis.

Padahal dalam penciptaan produk homoseksual tentu bukan hanya karena faktor lingkungan. Yah, Mbak Wuwun menggambarkan di luar negeri, dimana pernikahan sejenis sudah legal saja jumlah LGT tidak meledak. Hanya saja, kembali lagi ketika dibenturkan dari segi agama maka hal ini juga menimbulkan kontra….

Yuk baca postingan berikutnya

 

(kembali) Tentang LGBT di Indonesia

LGBT- Word Cloud

Setelah postingan gue tentang Demam LGBT di Indonesia yang mengangkat artikel mahasiswa Psikologi dan tulisan Prof. Sarlito, maka kali ini gue rada kaget dengan adanya pemberitaan mengenai Saipul Jamil di media massa yang diduga mencabuli anak ABG dengan dugaan melakukan oral seks (sumber berita). Setelah adanya kejadian Indra Bekti, kemudian dugaan bahwa Jessica pembunuh Mirna adalah pasangan lesbian, semakin menyudutkan kaum LGBT di Indonesia. Banyak pihak yang secara tegas kontra dan menolak dengan dalih agama, tidak sesuai dengan norma dan sebagainya.

Gue sempat mengobrol dengan teman-teman normal, dan kebanyakan mereka melihat LGBT adalah kaum yang agresif, posesif terhadap pasangan dan bahkan sering dikaitkan dengan kasus pembunuhan dan semacam itu. Disatu sisi gue bukannya tidak mau membela, tetapi tekanan dari lingkungan yang “melihat saya sebagai pria normal” harus bertingkah normal juga dan dilarang mendukung LGBT hanya bisa bersikap “polos” dan tidak paham mengenai perilaku mereka. Dilematis memang. Sangat dilematis.

Ditambah dengan pemberitaan media yang amat sangat tendensius. Seperti dikutip dari artikel Viva News, Survei: Ada 5.791 Pria Gay di Depok Gay berkumpul di pusat perbelanjaan dan mencari mangsa di toilet umum. Pemberitaan media seperti ini, kalau orang awam hanya membaca judulnya (apalagi banyak yang saat ini hanya melihat headline berita di twitter) maka hanya akan terlintas bahwa kaum gay begitu banyak dan mereka suka “jajan” di toilet-toilet. Sangat memojokkan kaum gay. Meskipun ada berita klarifikasi pemberitaan tersebut, KPA Kota Depok Klarifikasi Soal Pria Gay Intai di Toilet KPA membantah pernah menyebut pria gay mengintai di toilet umum tetap saja pemberitaan pertama adalah penghakiman paling menyakitkan. Simplenya, siapa peduli ada berita klarifikasi, orang awam hanya tau gay itu makin banyak dan mengintai di toilet-toilet umum.

Meskipun begitu, gue cukup bahagia dengan pernyataan Koh Ahok (sumber berita),“Yang jelas dari zamannya nabi dulu sudah begitu, dari cerita Ibrahim dan Luth sudah begitu,”.  Menurut pendapat gue pribadi, secara tegas Ahok tidak melarang komunitas atau perilaku gay karena memang sulit dibendung dan meskipun salah, pada dasarnya gay adalah sama saja dengan perilaku korupsi yang sama salahnya. Tetapi kita tidak bisa menjudge perilaku mereka dan mendeskriminasikan LGBT. Kewajiban negara adalah mencegah agar tidak terjadi penularan HIV/AIDS karena perilaku tersebut. Sebagai catatan, jumlah penderita HIV/AIDS adalah Ibu Rumah Tangga (kemungkinan besar tertular dari suaminya). Faktor risiko penderita HIV/AIDS sendiri juga berasal dari kaum heteroseksual (61.5%), bukan homoseksual (hanya 2.4%). Gue dapat angka tersebut dari data Depkes, teman-teman bisa mengaksesnya disini.

“Sekarang siapa yang enggak pernah buat salah? Yang penting bagi kami jangan sampai terjadi penularan HIV/AIDS, karena terjadi sesuatu seperti ini. Karena di kalangan mereka juga banyak sekali ditemukan seperti ini. Bagi kami adalah mencegah itu,” sambung Ahok.

Kemudian dikutip pernyataan dari Ernest Prakasa,

Jadi, apakah menurut saya homoseksualitas itu dosa? Jelas iya.

Lalu apakah saya lantas menganggap mereka LEBIH HINA? JELAS TIDAK.

Bagi saya, menuding hina seseorang karena ia homoseks bagaikan seorang bodoh yang menertawakan orang lain yang belepotan lumpur, padahal mereka berkubang di kolam yang sama.

Kiranya Tuhan mengampuni kita semua.

Sumber : Blog Ernest.

Demam LGBT di Indonesia

Wow, lagi heboh nih LGBT di Indonesia. LGBT alias Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender adalah istilah untuk orientasi seksualitas selain heteroseksual. Banyak orang bilang kalo LGBT atau homoseksual adalah kelainan seksual.

Benarkan ini adalah kelainan?

Nah, kebetulan nih gue baru aja dapet postingan yang keren dari salah satu mahasiswa psikologi. Gue ijin share yaa copy paste postingan beliau.

Mempertanyakan Kembali Normalitas Homoseksual

Sebagai seorang mahasiswa psikologi yang aktif berorganisasi di komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (selanjutnya disingkat LGBT), saya masih seringkali berhadapan dengan individu homoseksual yang mempertanyakan mengenai normalitas dalam dirinya kepada saya, bahkan di saat ia telah bergabung cukup lama dengan organisasinya. Tidak jarang …pula, saya mendapatkan laporan dari beberapa teman saya bahwa mereka mendapatkan pelayanan kesehatan dari dokter, psikiater dan bahkan psikolog yang menyudutkan seksualitas mereka sebagai abnormalitas. Di dalam beberapa media baik cetak dan elektronik pun, saya masih mendapatkan para ahli dari bidang medis maupun psikologis di Indonesia yang menyatakan bahwa homoseksual itu sebuah abnormalitas kejiwaan ataupun penyimpangan seksual. Beberapa di antara mereka bahkan mengklaim diri mereka mampu menyembuhkan klien homoseksualnya. Di kalangan mahasiswa psikologi sendiri, masih banyak yang menganggap bahwa homoseksual ini terjadi karena efek patah hati ke lawan jenis, salah pola asuh dari ketidakharmonisan keluarga, serta efek pergaulan dengan komunitas homoseksual.

Nampaknya penghapusan abnormalitas homoseksual dari kitab diagnosis gangguan kejiwaan saja tak cukup untuk menghapus paradigma abnormalitas di masyarakat, bahkan di kalangan psikologi sendiri. Beberapa ahli di Indonesia menyatakan bahwa DSM-III yang pertama kali menghapus homoseksual sebagai gangguan kejiwaan dipengaruhi oleh politik massa kelompok homofilia (sebutan untuk aktifis LGBT di saat itu) ataupun disebabkan karena indoktrinasi nilai-nilai liberal Barat yang menjunjung tinggi kebebasan individu serta nilai sekuler yang berusaha untuk memposisikan nilai-nilai agama pada ruang privat individu dan bukan di ruang publik. Pemberitaan mengenai kasus pembunuhan yang kejam dan mutilasi dilakukan oleh individu homoseksual seperti pada kasus Ryan Jombang dan Babe seringkali menjadi dasar argumentasi mereka untuk memberikan label abnormalitas pada homoseksual. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa individu homoseksual rentan memiliki depresi dan ketergantungan pada zat adiktif (Polders et al, 2009), gangguan makan (Siever, 1994), rentan bermasalah dengan body dissastifaction (Tiggemann, Martins, & Kirkbride, 2007), memiliki attachment style yang insecure dalam hubungan interpersonal (Jellison & McConnell, 2003), perilaku sabotase diri seperti meninggalkan pekerjaan dan pendidikan (Gonsiorek, 1995), perilaku seks beresiko (Stokes & Peterson, 1998), melakukan bunuh diri (Macdonald & Cooper, 1998), dan kekerasan dalam level domestik (Pharr, 1988).

Jadi, apakah benar homoseksual hanya dinormalkan karena adanya pengaruh nilai liberal Barat dan politik massa kelompok homofilia? Apakah benar memang homoseksualitas dapat dan harus disembuhkan?

Depatologisasi Homoseksual : Efek Politik atau Hasil Penelitian Ilmiah?

American Psychiatric Association (selanjutnya disingkat APA) telah menghapus homoseksualitas dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) pada tahun 1973. Keputusan ini memang diambil dari sebuah perubahan kultural yang dibawa gerakan protes sosial dari tahun 1950 hingga tahun 1970an yang dimulai dari gerakan hak sipil Afrika-Amerika, yang kemudian beranjak kepada gerakan hak perempuan dan gay.

Tapi apakah ini berarti benar penghapusan diagnosa homoseksual dari DSM murni politik tanpa dasar ilmiah sama sekali?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat kembali kepada hasil studi yang mendukung penghapusan homoseksualitas sebagai abnormalitas. Dimulai dari hasil studi Alfred Kinsey di tahun 1948 mengenai seksualitas laki-laki dan perempuan. Hasil studi yang dikenal sebagai Sexual Behavior in the Human Male (Kinsey & Martin, 1948) dan Sexual Behavior in the Human Female (Kinsey, Martin & Gebhard, 1953) memulai perubahan budaya dari pandangan mengenai homoseksualitas sebagai patologi menjadi sebuah variasi normal dari seksualitas manusia.

Di dalam studinya ini, Kinsey mengkritik habis-habisan kecenderungan para peneliti untuk mengkotak-kotakkan homoseksual dan heteroseksual sebagai dua tipe manusia yang berbeda. Oleh karena itu, Kinsey memperkenalkan skala 0 hingga 6 untuk mengklasifikasi perilaku atau fantasi seksual dari : “exclusively heterosexuals” hingga “exclusively homosexuals”

Sebuah kutipan singkat dari halaman 639, Sexual Behavior in the Human Male dapat menjelaskan pandangan Kinsey mengenai kadar homoseksual bergradasi dalam diri manusia, terutama lelaki.

“Laki-laki tidak mewakilkan dua populasi yang saling berlainan, heteroseksual dan homoseksual. Dunia ini tidak terbagi menjadi domba dan kambing. Ada sebuah taksonomi mendasar yang jarang sekali dibawa oleh alam dengan kategori berlainan… Dunia kehidupan adalah sebuah kontinum di dalam setiap aspeknya. (Kinsey & Martin, 1948)

Dari pernyataan inilah skala homoseksual bergradasi Kinsey tercipta sebagai berikut :
0- Exclusively heterosexual with no homosexual
1- Predominantly heterosexual, only incidentally homosexual
2- Predominantly heterosexual, but more than incidentally homosexual
3- Equally heterosexual and homosexual
4- Predominantly homosexual, but more than incidentally heterosexual
5- Predominantly homosexual, only incidentally heterosexual
6 – Exclusively homosexual

Kinsey telah menemukan bahwa 37% laki-laki dan 13% perempuan telah menunjukkan sebuah pengalaman homoseksual yang bersifat overt hingga titik orgasme; lebih jauh lagi, ditemukan bahwa 10% laki-laki ternyata kurang lebih berada pada skala homoseksual eksklusif. Sekitar 8% laki-laki ternyata homoseksual eksklusif setidaknya sepanjang tiga tahun dengan rentang umur 16 dan 55. Sementara itu pada perempuan ditemukan 2-6% melaporkan perilaku dan pengalaman homoseksual eksklusif. Terdapat setidaknya 4% laki-laki dan 1-3% perempuan menyadari dirinya sebagai homoseksual eksklusif setelah masa pubertas.

Pada tahun 1951, Clellan Ford dan Frank Beach menerbitkan buku Patterns of Sexual Behavior menemukan bahwa homoseksualitas ternyata ditemukan di berbagai budaya di dunia dan bahkan juga hadir dalam spesies hewan. Dengan penemuan ini, makadapat disimpulkan bahwa homoseksualitas sendiri hadir secara alamiah dan tersebar luas di berbagai budaya.

Dari bidang psikologi, sebuah studi yang sangat mengejutkan dihasilkan oleh Evelyn Hooker. Hooker menunjukkan hasil tiga test proyektif (TAT, MAPS, dan Rorschach) dari tiga puluh orang lelaki homoseksual yang didapatkan dari Mattachine Society dan tiga puluh orang lelaki heteroseksual. Kedua kelompok ini dikelompokkan lagi berdasarkan IQ, umur dan latar belakang pendidikan. Untuk kepentingan hasil penelitian, Hooker menerapkan kriteria responsen bahwa para lelaki dari kedua kelompok tidak boleh pernah mendapatkan bantuan psikologis, sedang dalam masa terapi, pernah dipenjara, pernah berada dalam barak militer, ataupun menunjukkan bukti adanya gangguan kejiwaan.

Hasil test proyektif ini diserahkan kepada tiga ahli di dalam tes proyektif dengan enam puluh profil psikologis yang tidak diberitahukan orientasi seksualnya. Ketiga ahli ini adalah Bruno Klopfer yang ahli dalam tes Rorschach yang dikenal dapat mengidentifikasi homoseksualitas, Edwin Shneidman, pencipta dari MAPS sendiri dan Mortimer Mayer yang bahkan memeriksa ke enam puluh profil hingga dua kali, namun ketiganya berkesimpulan sama: bahwa mereka gagal membedakan kedua kelompok. Hasil studi Hooker menunjukkan bahwa para psikolog yang telah berpengalaman sekalipun tidak dapat membedakan hasil test antara homoseksual dan heteroseksual.serta tidak ada perbedaan antara fungsi mental keduanya.Hasil studi ini akhirnya dipresentasikan di tahun 1956 di Chicago dalam konvensi American Psychological Association. National Institute of Mental Health sangat terkesan dengan hasil penelitian Evelyn Hooker sehingga mendapatkan penghargaan untuk melanjutkan hasil karyanya yang telah mengubah sikap dalam komunitas psikologi terhadap homoseksual. Hasil studi ini pula yang mempengaruhi keputusan APA untuk menghapus homoseksualitas di tahun 1973.

Homoseksualitas sendiri telah dimasukkan ke dalam gangguan mental di DSM-1 pada tahun 1952 sebagai gangguan kepribadian sosiopath, dikarenakan dianggap melanggar norma masyarakat. DSM-II yang diterbitkan pada tahun 1968, menjadikan homoseksualitas sebagai daftar kelainan seksual, namun tidak dimasukkan sebagai gangguan kepribadian. Penerbitan DSM-II ini berbenturan dengan kemunculan gerakan hak homoseksual. Kerusuhan Stonewall pada tahun 1969 yang berdarah menjadi sebuah momentum tersendiri. Setelah berhasil menantang usaha polisi dan pemerintah untuk menutup tempat umum dimana para gay berkumpul, aktivis gay dengan segera menantang para psikiater.

Sebelum kejadian Stonewall, aktivis gay telah menerima pandangan medis mengenai homoseksualitas sebagai gangguan kejiwan. Pandangan abnormalitas ini berarti menerima homoseksualitas sebagai penyakit sehingga diharapkan dapat diperlakukan sebagai sebuah cacat, daripada sebuah dosa agama ataupun amoralitas agar dapat diperlakukan dengan sikap lebih manusiawi dan objektif.

Akan tetapi generasi baru dari aktivis gay melihat pandangan medis dan psikiatris ini sama bermasalahnya dengan pandangan agama. Penolakan terhadap hak asasi mereka masih terjadi yang mana semakin memperbesar prasangka antihomoseksual di masyarakat, menyebabkan ancaman hebat bagi kesejahteraan homoseksual. Akhirnya, terjadilah konfrontasi terhadap APA yang dilakukan oleh aktivis homofil di beberapa pertemuan tahunan antara 1970 dan 1972. Sebagai hasil dari aktivis gay terus menerus melakukan protes di pertemuan tahun 1970 dan 1971, maka akhirnya digelarlah sebuah presentasi yang mendukung gay pada tahun 1972. Pada pertemuan ini John Fryer, MD muncul dalam sebuah panel dengan karyanya berjudul “Psychiatry: Friend or Foe to Homosexuals?” yang diselenggarakan oleh aktivis gay Barbara Gittings dan Frank Kameny, yang muncul bersama Fryer serta bersama Judd Marmor, M.D. seorang psikiater heteroseksual dan pendukung penghapusan homoseksualitas dari diagnosis.

Di saat itu, Dr.Fryer muncul sebagai Dr.H. Anonymous, menyamar dengan tuksedo yang berukuran kebesaran dan menggunakan sebuah topeng untuk menyamarkan identitasnya. Dia mengejutkan para penonton psikiater dengan menyatakan dalam sebuah suara yang diubah, “I am a homosexual. I am a psychiatrist.” Dia lalu menjelaskan dengan menggambarkan kehidupannya sebagai seorang psikiater gay yang tertutup dan harus hidup dalam sebuah bidang yang masih menganggap homoseksualitas sebagai gangguan kejiwaan. Inilah pertama kalinya seorang psikiater gay berani menampilkan dirinya di antara rekan sejawatnya.

Kelompok pro dan kontra homoseksual pun semakin terlihat jelas di kalangan komunitas psikiatri. Beberapa anggota APA menunjukkan hasil penelitian yang mendukung bahwa homoseksualitas ada dalam jumlah banyak orang yang menunjukkan fungsi psikologis yang normal dan berada di dalam berbagai budaya. Dr. Robert Spitzer dan anggota lainnya dari Satuan Tugas APA setuju untuk bertemu dengan kelompok aktivis gay yang menunjukkan bukti ilmiah dan meyakinkan untuk mempelajari lebih lanjut mengenai homoseksualitas. Penelitian selanjutnya akhirnya meminta bahwa homoseksualitas dihapuskan dari DSM di dalam sebuah proposal. Proposal ini akhirnya disetujui oleh Dewan Penelitian dan Perkembangan APA, Komite Referensi, dan Perwakilan Cabang Distrik sebelum akhirnya diterima oleh Board of Trustee dari APA pada Desember 1973. Organisasi profesi kesehatan jiwa lainnya seperti American Psychological Association dan National Association of Social Workers akhirnya menyetujui aksi ini.

Beberapa anggota APA, terutama para ahli psikoanalisa terus memaksakan pandangan patologis mengenai homoseksualitas, menantang pimpinan APA dengan menyerukan referendum keanggotaan seluruh APA. Keputusan untuk menghapus homoseksualitas ditegakkan oleh suara mayoritas 58% anggota APA.

Ketika diagnosa homoseksualitas ini dihapuskan pada tahun 1973, APA tidak begitu saja menerima sepenuhnya model normal homoseksualitas (Drescher 1998, Bayer 1987, Krajeski 1996). Akibat adanya perlawanan dari pihak kontra, pimpinan APA akhirnya membuat sebuah kompromi. Kompromi inilah yang meletakkan diagnosis Sexual Orientation Disturbance (selanjutnya disingkat SOD) untuk menggantikan posisi homoseksualitas. Diagnosa SOD ini ditegakkan bagi homoseksual yang berada dalam konflik dengan orientasi seksualnya. Hal ini pun tetap memicu kontroversi tersendiri, karena tidak ada heteroseksual yang tidak bahagia dengan heteroseksualitasnya sehingga mencari perawatan untuk menjadi homoseksual. Tahun 1980 DSM-III akhirnya SOD digantikan oleh homoseksual ego distonik.

Proses revisi DSM-III terhadap homoseksual ego distonik juga memicu kontroversi besar. Dalam debat ini, anggota APA lesbian dan gay yang terbuka mengenai orientasi seksual mereka akhirnya memainkan peran penting dalam membawakan perubahan (Krajeski, 1996). Anggota APA Advisory Committee mulai mengerjakan revisi. Pihak pro dari homoseksual ego distonik berargumen bahwa diagnosis ini dapat berguna secara klinis dan penting untuk statistik dan penelitian. Pihak kontra homoseksual ego distonik menekankan bahwa membuat pengalaman subjektif klien terhadap homoseksualitas sebagai faktor penentu diagnosa mereka tidaklah konsisten dengan pendekatan berdasarkan bukti yang telah dianut oleh psikiatri. Pihak kontra berargumen bahwa data empiris tidak mendukung diagnosa ini sehingga tidaklah pantas untuk memberikan label budaya yang bersifat homophobik sebagai gangguan kejiwaan itu sendiri. Komite APA setuju dengan pihak kontra dan diagnosa homoseksual ego distonik dihapuskan dari DSM-III-R pada tahun 1987.

Perubahan ini mendukung American Psychological Association dan kelompok kesehatan jiwa lainnya untuk melakukan depatologisasi homoseksualitas. APA bahkan menyatakan bahwa diskriminasi terhadap pekerjaan akibat orientasi seksual sebagai irasional di tahun 1988, APA juga telah menentang penolakan dari militer diakibatkan orientasi seksual pada tahun 1990. Di tahun 1992, APA mendorong setiap anggotanya untuk turut aktif dalam kasus-kasus terkait orientasi seksual dan menolong pencegahan kasus-kasus ini agar tidak terus terjadi. APA bahkan mengeluarkan sebuah pernyataan menentang semua jenis perawatan psikiatri yang mencoba mengubah orientasi seksual pasiennya. Di tahun 2000, APA bahkan berani mendukung hubungan sesama jenis. Dua tahun kemudian, APA mendukung adopsi anak untuk pasangan homoseksual. Pada tahun 2005, APA mendukung sepenuhnya pernikahan sesama jenis dan hak pasangan homoseksual untuk menikah.

Langkah ini diikuti oleh American Psychoanalytic Association (APsaA) pada tahun 1991 menentang diskriminasi terhadap gay dan seleksi kandidat pelatihan mereka menjadi lebih inklusif terhadap semua orientasi seksual. Tahun 1997, ApsaA mendukung pernikahan sesama jenis dan menegaskan bahwa terapi untuk mengubah homoseksual menentang prinsip mendasar dari perawatan berbasiskan psikoanalisis pada tahun 2000. Dua tahun kemudian, ApsaA juga menolak diskriminasi terhadap orientasi seksual di dalam mengadopsi anak. World Health Organization dengan ICD-10nya menghapus homoseksualitas pada tahun 1992 dan hari inilah yang akhirnya dikenal sebagai International Day Against Homophobia oleh komunitas gay di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Semua perubahan positif bagi homoseksual ini tetap memicu kontroversi dari pihak anti homoseksual, sekelompok kecil psikolog dan psikiater terus berjuang melawan homoseksualitas. Mereka tetap kokoh pada pendapat bahwa homoseksualitas adalah sebuah disfungsi, abnormalitas yang dapat disembuhkan. Kelompok ini terutama berasal dari National Association for Research and Therapy of Homosexuality (selanjutnya disingkat NARTH).

Upaya Penyembuhan Homoseksual : Benarkah Mereka Berhasil?

Banyaknya klaim dari NARTH dan kelompok pendukung terapi penyembuhan homoseksual lainnya mengenai kesuksesan terapi mereka mengubah orientasi seksual seringkali dibantah dengan lebih banyaknya laporan mengenai orang yang gagal berusaha untuk menjadi heteroseksual dan justru mengalami banyak masalah dan tekanan psikologis di dalam proses yang diharapkan membawa penyembuhan.

Sebagai respons terhadap debat publik mengenai upaya penyembuhan orientasi seksual, American Psychological Association membentuk Task Force on Appropriate Therapeutic Responses to Sexual Orientation yang melakukan tinjauan kepada karya ilmiah terkait terapi-terapi yang berusaha mengubah orientasi seksual ini. Termasuk kepada terapi-terapi yang dilakukan oleh pihak NARTH dan pihak-pihak lainnya yang mendukung terapi perubahan orientasi seksual.

Tahun 2009, Task Force ini melaporkan adanya masalah serius pada metodologi penelitian di area terapi ini, yang mana menunjukkan hanya sedikit studi memenuhi standard minimal untuk mengevalusi perawatan psikologis yang efektif.

Berdasarkan tinjauan kepada hasil penelitian yang dianggap memenuhi standard ini, Task Force menyimpulkan bahwa:

“Perubahan orientasi seksual yang menetap sangatlah jarang. Para responden dalam penelitian ini terus mengalami atraksi sesama jenis setelah upaya perubahan orientasi seksual dan tidak melaporkan perubahan signifikan ketertarikan kepada lawan jenis yang dapat divalidasi secara empiris, meskipun beberapa menunjukkan berkurangnya gairah fisiologis semua rangsangan seksual. Bukti menarik dari penurunan perilaku seksual sesama jenis dan terlibat dalam perilaku seksual dengan jenis kelamin yang lain sangatlah jarang. Beberapa penelitian memberikan bukti kuat bahwa perubahan yang dihasilkan dalam kondisi laboratorium dihasilkan ke kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, hasil penelitian secara ilmiah menunjukkan bahwa tidak mungkin bahwa orang akan dapat mengurangi ketertarikan kepada sesama jenis atau menambah atraksi seksual lainnya-seks melalui upaya perubahan orientasi seksual.”

Sebagai respon terhadap laporan Task Force, American Psychological Association akhirnya mengeluarkan resolusi pada tahun 2009 yang menyatakan bahwa tidak adanya bukti pendukung untuk menggunakan intervensi psikologis dalam mengubah orientasi seksual.

Sumber Perilaku Abnormal Homoseksual

Jika homoseksual normal dan tidak ada terapi yang dapat mengubah seorang homoseksual menjadi heteroseksual, lalu mengapa begitu banyak penelitian yang menunjukkan kerentanan individu homoseksual dengan masalah kejiwaan?

Semua penelitian yang telah disebutkan sebelumnya di atas, menyoroti lebih jauh bahwa orientasi seksual bukanlah sebagai faktor resiko masalah kejiwaan itu sendiri. Memiliki orientasi seksual kepada sesama jenis tidak serta-merta membuat seseorang menjadi rentan terhadap masalah kejiwaan. Faktor lingkungan sosial yang homofobik dan memberikan tekanan minoritas kepada kelompok homoseksual yang menjadi penyebab tingginya distress sehingga memicu gangguan kejiwaan (Polders et al, 2009). Faktor sosial ini antara lain adalah kurangnya social support, tidak adanya keterbukaan atas orientasi seksual yang semakin mengurangi kemungkinan mendapatkan social support, victimization dalam bentuk hate speech dan physical victimization.

Internalized homophobia juga seringkali menjadi potensi untuk munculnya masalah kejiwaan (Szymanski & Kashubeck, 2008). Internalized homophobia dapat dijelaskan melalui konsep stigma dan prasangka Allport (1954) yang melihat internalized homophobia sebagai reaksi homoseksual terhadap stigma ke dalam dirinya sendiri yang mana individu homoseksual ini mengidentifikasi diri sesuai dengan kepercayaan kebanyakan heteroseksual di masyarakat. Internalized homophobia memicu kebencian kepada diri sendiri dan menyebabkan banyak masalah kesehatan fisik dan kejiwaan (Newcomb & Mustanski, 2010).

Jadi sangatlah jelas bahwa permasalahan kesehatan pada homoseksual justru lebih banyak disebabkan oleh nilai-nilai budaya dan faktor lingkungan sosial yang menolak keberadaan mereka. Perkembangan kepribadian yang sehat membutuhkan dukungan sosial yang positif dan memungkinkan individu untuk mengaktualisasikan potensinya tanpa ada halangan, tekanan dan diskriminasi. Selama halangan, tekanan, dan diskriminasi ini terus hadir di dalam masyarakat, maka selama itu pula individu homoseksual akan terus mendapatkan permasalahan yang lebih berat dalam kehidupannya dibandingkan individu heteroseksual. Sebaliknya, homoseksual yang telah berhasil menerima diri mereka dan mendapatkan dukungan orang sekitar mereka justru dapat menjadi sosok yang sukses dan bahkan menginspirasi. Inilah bukti nyata bahwa homoseksualitas bukanlah bentuk abnormalitas itu sendiri, namun tekanan sosial dapat memicu perilaku bermasalah dan masalah kesehatan fisik dan jiwa pada homoseksual.

Referensi :
Allport, G. (1954). The nature of prejudice. Reading, MA: Addison-Wesley.
Bayer, R. (1987). Homosexuality and American Psychiatry: The Politics of Diagnosis. Princeton: Princeton University Press.
Drescher, J. (1998). Psychoanalytic Therapy and the Gay Man. New York: The Analytic Press.
Drescher, J. & Merlino, J.P., (2007). American Psychiatry and Homosexuality: An Oral History. Harrington Park Press. Ford, C.S. & Beach, F.A. 1951. Patterns of Sexual Behavior. New York: Harper & Row.
Gonsiorek, J. C. (1995). Gay male identities: Concepts and issues. In A. R. D’Augelli & C. J. Patterson (Eds.). Lesbian, gay, and bisexual identities over the lifespan: Psychological perspectives (pp. 24-47). New York: Oxford Press.
Hire, R.O. 2007. An interview with Frank Rundle, MD. In American Psychiatry and Homosexuality: An Oral History, ed. J. Drescher, J.P. Merlino, 115-130. New York: Harrington Park Press.
Hooker, E. (1956). A preliminary analysis of group behavior of homosexuals. Journal Of Psychology. Vol 42 pp 217-25.
Hooker, E. (1957). The adjustment of the male overt homosexual. Journal of Projective Techniques .Vol 21 pp 18-31.
Jellison, W. A., & McConnell, A. R. (2003). The Mediating Effectsof Attitudes Toward Homosexuality Between Secure Attachment and Disclosure Outcomes Among Gay Men. Journal of Homosexuality, Vol. 46(1/2), pp. 159 – 177
Kinsey, A.C., W.B. Pomeroy, C.E. Martin. (1948). Sexual Behavior in the Human Male. Philadelphia, PA: W.B. Saunders.
Kinsey, A.C., W.B. Pomeroy, C.E. Martin, P.H. Gebhard. (1953). Sexual Behavior in the Human Female. Philadelphia, PA: W.B. Saunders.
Krajeski, J. (1996). Homosexuality and the mental health professions. In Textbook of Homosexuality and Mental Health, ed. R. Cabaj& T. Stein, 17-31. Washington: American Psychiatric Press.
Macdonald, R. & Cooper. T. (1998), Young Gay Man and Suicide : A Report of A Study Exploring Which Young Men Give for Suicide. Youth Studies Australia. Vol.17 (4), pp 23 – 27
Newcomb, M.E. & Mustanski, B. (2010). Internalized homophobia and internalizing mental health problems: A meta-analytic review. Clinical Psychology Review. Vol 30. pp 1019–1029
Pharr, S. (1988).Homophobia: A weapon of sexism. Little Rock: Chardon.
Poulders, L.A (2009), Factors affecting vulnerability to depression among gaymen and lesbian women in Gauteng, South Africa. South African Journal of Psychology, Vol 38(4), pp.673-687
Siever, M.D (1994). Sexual orientation and gender as factors in socioculturally acquired vulnerability to body dissatisfaction and eating disorders. Journal of Consulting & Clinical Psychology, Vol 62, pp: 252-260.
Spitzer, R L. 1973. A proposal about homosexuality and the APA nomenclature: Homosexuality as an irregular form of sexual behavior and sexual orientation disturbance as a psychiatric disorder. American Journal of Psychiatry Vol 130 pp 1214-1216.
Stokes, J. P., & Peterson, J. L. (1998). Homophobia, self-esteem, and risk for HIV among African-American men who have sex with men. AIDS Education and Prevention, Vol 10, pp 278-292
Szymanski, D. M., & Kashubeck-West, S. (2008). Mediators of the relationship between internalized oppressions and lesbian and bisexual women’s psychological distress. The Counseling Psychologist. Vol 36, pp 575−594.
Tiggemann, M., Martins, Y., & Kirkbride, A. (2007). Oh to be lean and muscular: Body image ideals in gay and heterosexual men. Psychology of Men and Masculinity, Vol 8(1), pp 15-24
http://psychology.ucdavis.edu/rainbow/html/facts_changing.html. Attempts to Change Sexual Orientation. diakses pada tanggal 11 Oktober 2013.

———————————————————————————————————-

Artikel ini digunakan untuk UTS Psikologi Klinis, sebagai bentuk KEPRIHATINAN saya dengan paradigma psikopatologi terhadap homoseksualitas yang masih bertahan di Indonesia.

Sumber : http://rainbowrevival.blogspot.co.id/2013/10/mempertanyakan-kembali-normalitas.html

 

Menarik banget baca postingan dia. Ilmiah banget, didukung dengan referensi yang lengkap dan menunjukkan perilaku homoseksualitas dari sudut psikologi dan medis. Dengan merebaknya isu LGBT saat ini, gue rasa kita semua harus berempati dan bukan hanya mendeskriminasikan kondisi yang ada saat ini.

Kebetulan juga gue dapet nih komentar dari Professor Sarlito, guru besar Fakultas Psikologi UI (copas dari facebook beliau, linknya dari sini)

Komentar saya (Prof.  Sarlito):
Tulisan seperti tersebut di atas hanya bisa dibuat oleh seorang yang sangat peduli pada masalah diskriminasi terhadap LGBT. Referensinya luar biasa untuk seorang mahasiswa Psikologi (sayang saya tidak temukan namanya).

Tulisannya menjelaskan lebih jauh tentang bagaimana proses terjadinya pengakuan dari para ahli psikiatri dan psikologi bahwa LGBT bukan lagi tergolong gangguan jiwa, namun saya tetap tidak sepaham untuk membolehkan LGBT menikah secara legal. Di satu pihak kita berusaha berempati kepada mereka dengan cara meningalkan paradigma heteroseks (karena mereka punya paradigma sendiri), di lain pihak kita tetap memberlakukan paradigma heteroseks (upacara perkawinan, janji pernikahan, mengundang teman dan keluarga, baju pengantin, makan-makan dll) untuk melegalkan hubungan mereka.

Saya kira sebaiknya mereka dibiarkan menggunakan cara-cara mereka sendiri. Tanpa menikahpun mereka bisa tetap saling mencinta dan bercinta. Jangan berpikir tentang dosa dan berzina, karena itu balik lagi ke paradigma kita (padahal heteroseks pun banyak banget yang berzina, kan?). Kalau hendak punya anak asuh silakan saja, tidak usah dilegalkan juga, karena cinta antara anak asuh dan bapak/ibu pengasuhnya akan mengikat hubungan emosi antara keduanya, sehingga pada usia tua kelak akan ada anak asuh yang akan merawatnya.

Gue bukan anak Psikologi, jadi gue hanya bisa copy paste dan men-share kan artikel yang menurut gue bagus ini.

Gue nemu juga artikel Prof. Sarlito yang di tampilkan di Koran Sindo, 31  Januari 2016.

LGBT

Sarlito Wirawan Sarwono  ;  Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia              KORAN SINDO, 31 Januari 2016

Minggu-minggu terakhir ini di Universitas Indonesia (UI) sedang heboh soal lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Pasalnya, ada kelompok mahasiswa yang menamakan dirinya Support Group and Resource on Sexuality UI (SGRC UI) yang membuka konseling gratis untuk para penyandang LGBT di UI.

Reaksi sebahagian warga UI langsung menolak keras, dengan alasan jangan sampai LGBT masuk kampus. Rektor pun menyatakan bahwa SDRC UI bukan organ resmi yang diakui UI, bahkan Menristek Muhamad Nasir melarang diskusi tentang LGBT di seluruh kampus di Indonesia.

continued…