(kembali) Tentang LGBT di Indonesia

LGBT- Word Cloud

Setelah postingan gue tentang Demam LGBT di Indonesia yang mengangkat artikel mahasiswa Psikologi dan tulisan Prof. Sarlito, maka kali ini gue rada kaget dengan adanya pemberitaan mengenai Saipul Jamil di media massa yang diduga mencabuli anak ABG dengan dugaan melakukan oral seks (sumber berita). Setelah adanya kejadian Indra Bekti, kemudian dugaan bahwa Jessica pembunuh Mirna adalah pasangan lesbian, semakin menyudutkan kaum LGBT di Indonesia. Banyak pihak yang secara tegas kontra dan menolak dengan dalih agama, tidak sesuai dengan norma dan sebagainya.

Gue sempat mengobrol dengan teman-teman normal, dan kebanyakan mereka melihat LGBT adalah kaum yang agresif, posesif terhadap pasangan dan bahkan sering dikaitkan dengan kasus pembunuhan dan semacam itu. Disatu sisi gue bukannya tidak mau membela, tetapi tekanan dari lingkungan yang “melihat saya sebagai pria normal” harus bertingkah normal juga dan dilarang mendukung LGBT hanya bisa bersikap “polos” dan tidak paham mengenai perilaku mereka. Dilematis memang. Sangat dilematis.

Ditambah dengan pemberitaan media yang amat sangat tendensius. Seperti dikutip dari artikel Viva News, Survei: Ada 5.791 Pria Gay di Depok Gay berkumpul di pusat perbelanjaan dan mencari mangsa di toilet umum. Pemberitaan media seperti ini, kalau orang awam hanya membaca judulnya (apalagi banyak yang saat ini hanya melihat headline berita di twitter) maka hanya akan terlintas bahwa kaum gay begitu banyak dan mereka suka “jajan” di toilet-toilet. Sangat memojokkan kaum gay. Meskipun ada berita klarifikasi pemberitaan tersebut, KPA Kota Depok Klarifikasi Soal Pria Gay Intai di Toilet KPA membantah pernah menyebut pria gay mengintai di toilet umum tetap saja pemberitaan pertama adalah penghakiman paling menyakitkan. Simplenya, siapa peduli ada berita klarifikasi, orang awam hanya tau gay itu makin banyak dan mengintai di toilet-toilet umum.

Meskipun begitu, gue cukup bahagia dengan pernyataan Koh Ahok (sumber berita),“Yang jelas dari zamannya nabi dulu sudah begitu, dari cerita Ibrahim dan Luth sudah begitu,”.  Menurut pendapat gue pribadi, secara tegas Ahok tidak melarang komunitas atau perilaku gay karena memang sulit dibendung dan meskipun salah, pada dasarnya gay adalah sama saja dengan perilaku korupsi yang sama salahnya. Tetapi kita tidak bisa menjudge perilaku mereka dan mendeskriminasikan LGBT. Kewajiban negara adalah mencegah agar tidak terjadi penularan HIV/AIDS karena perilaku tersebut. Sebagai catatan, jumlah penderita HIV/AIDS adalah Ibu Rumah Tangga (kemungkinan besar tertular dari suaminya). Faktor risiko penderita HIV/AIDS sendiri juga berasal dari kaum heteroseksual (61.5%), bukan homoseksual (hanya 2.4%). Gue dapat angka tersebut dari data Depkes, teman-teman bisa mengaksesnya disini.

“Sekarang siapa yang enggak pernah buat salah? Yang penting bagi kami jangan sampai terjadi penularan HIV/AIDS, karena terjadi sesuatu seperti ini. Karena di kalangan mereka juga banyak sekali ditemukan seperti ini. Bagi kami adalah mencegah itu,” sambung Ahok.

Kemudian dikutip pernyataan dari Ernest Prakasa,

Jadi, apakah menurut saya homoseksualitas itu dosa? Jelas iya.

Lalu apakah saya lantas menganggap mereka LEBIH HINA? JELAS TIDAK.

Bagi saya, menuding hina seseorang karena ia homoseks bagaikan seorang bodoh yang menertawakan orang lain yang belepotan lumpur, padahal mereka berkubang di kolam yang sama.

Kiranya Tuhan mengampuni kita semua.

Sumber : Blog Ernest.

Demam LGBT di Indonesia

Wow, lagi heboh nih LGBT di Indonesia. LGBT alias Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender adalah istilah untuk orientasi seksualitas selain heteroseksual. Banyak orang bilang kalo LGBT atau homoseksual adalah kelainan seksual.

Benarkan ini adalah kelainan?

Nah, kebetulan nih gue baru aja dapet postingan yang keren dari salah satu mahasiswa psikologi. Gue ijin share yaa copy paste postingan beliau.

Mempertanyakan Kembali Normalitas Homoseksual

Sebagai seorang mahasiswa psikologi yang aktif berorganisasi di komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (selanjutnya disingkat LGBT), saya masih seringkali berhadapan dengan individu homoseksual yang mempertanyakan mengenai normalitas dalam dirinya kepada saya, bahkan di saat ia telah bergabung cukup lama dengan organisasinya. Tidak jarang …pula, saya mendapatkan laporan dari beberapa teman saya bahwa mereka mendapatkan pelayanan kesehatan dari dokter, psikiater dan bahkan psikolog yang menyudutkan seksualitas mereka sebagai abnormalitas. Di dalam beberapa media baik cetak dan elektronik pun, saya masih mendapatkan para ahli dari bidang medis maupun psikologis di Indonesia yang menyatakan bahwa homoseksual itu sebuah abnormalitas kejiwaan ataupun penyimpangan seksual. Beberapa di antara mereka bahkan mengklaim diri mereka mampu menyembuhkan klien homoseksualnya. Di kalangan mahasiswa psikologi sendiri, masih banyak yang menganggap bahwa homoseksual ini terjadi karena efek patah hati ke lawan jenis, salah pola asuh dari ketidakharmonisan keluarga, serta efek pergaulan dengan komunitas homoseksual.

Nampaknya penghapusan abnormalitas homoseksual dari kitab diagnosis gangguan kejiwaan saja tak cukup untuk menghapus paradigma abnormalitas di masyarakat, bahkan di kalangan psikologi sendiri. Beberapa ahli di Indonesia menyatakan bahwa DSM-III yang pertama kali menghapus homoseksual sebagai gangguan kejiwaan dipengaruhi oleh politik massa kelompok homofilia (sebutan untuk aktifis LGBT di saat itu) ataupun disebabkan karena indoktrinasi nilai-nilai liberal Barat yang menjunjung tinggi kebebasan individu serta nilai sekuler yang berusaha untuk memposisikan nilai-nilai agama pada ruang privat individu dan bukan di ruang publik. Pemberitaan mengenai kasus pembunuhan yang kejam dan mutilasi dilakukan oleh individu homoseksual seperti pada kasus Ryan Jombang dan Babe seringkali menjadi dasar argumentasi mereka untuk memberikan label abnormalitas pada homoseksual. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa individu homoseksual rentan memiliki depresi dan ketergantungan pada zat adiktif (Polders et al, 2009), gangguan makan (Siever, 1994), rentan bermasalah dengan body dissastifaction (Tiggemann, Martins, & Kirkbride, 2007), memiliki attachment style yang insecure dalam hubungan interpersonal (Jellison & McConnell, 2003), perilaku sabotase diri seperti meninggalkan pekerjaan dan pendidikan (Gonsiorek, 1995), perilaku seks beresiko (Stokes & Peterson, 1998), melakukan bunuh diri (Macdonald & Cooper, 1998), dan kekerasan dalam level domestik (Pharr, 1988).

Jadi, apakah benar homoseksual hanya dinormalkan karena adanya pengaruh nilai liberal Barat dan politik massa kelompok homofilia? Apakah benar memang homoseksualitas dapat dan harus disembuhkan?

Depatologisasi Homoseksual : Efek Politik atau Hasil Penelitian Ilmiah?

American Psychiatric Association (selanjutnya disingkat APA) telah menghapus homoseksualitas dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) pada tahun 1973. Keputusan ini memang diambil dari sebuah perubahan kultural yang dibawa gerakan protes sosial dari tahun 1950 hingga tahun 1970an yang dimulai dari gerakan hak sipil Afrika-Amerika, yang kemudian beranjak kepada gerakan hak perempuan dan gay.

Tapi apakah ini berarti benar penghapusan diagnosa homoseksual dari DSM murni politik tanpa dasar ilmiah sama sekali?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat kembali kepada hasil studi yang mendukung penghapusan homoseksualitas sebagai abnormalitas. Dimulai dari hasil studi Alfred Kinsey di tahun 1948 mengenai seksualitas laki-laki dan perempuan. Hasil studi yang dikenal sebagai Sexual Behavior in the Human Male (Kinsey & Martin, 1948) dan Sexual Behavior in the Human Female (Kinsey, Martin & Gebhard, 1953) memulai perubahan budaya dari pandangan mengenai homoseksualitas sebagai patologi menjadi sebuah variasi normal dari seksualitas manusia.

Di dalam studinya ini, Kinsey mengkritik habis-habisan kecenderungan para peneliti untuk mengkotak-kotakkan homoseksual dan heteroseksual sebagai dua tipe manusia yang berbeda. Oleh karena itu, Kinsey memperkenalkan skala 0 hingga 6 untuk mengklasifikasi perilaku atau fantasi seksual dari : “exclusively heterosexuals” hingga “exclusively homosexuals”

Sebuah kutipan singkat dari halaman 639, Sexual Behavior in the Human Male dapat menjelaskan pandangan Kinsey mengenai kadar homoseksual bergradasi dalam diri manusia, terutama lelaki.

“Laki-laki tidak mewakilkan dua populasi yang saling berlainan, heteroseksual dan homoseksual. Dunia ini tidak terbagi menjadi domba dan kambing. Ada sebuah taksonomi mendasar yang jarang sekali dibawa oleh alam dengan kategori berlainan… Dunia kehidupan adalah sebuah kontinum di dalam setiap aspeknya. (Kinsey & Martin, 1948)

Dari pernyataan inilah skala homoseksual bergradasi Kinsey tercipta sebagai berikut :
0- Exclusively heterosexual with no homosexual
1- Predominantly heterosexual, only incidentally homosexual
2- Predominantly heterosexual, but more than incidentally homosexual
3- Equally heterosexual and homosexual
4- Predominantly homosexual, but more than incidentally heterosexual
5- Predominantly homosexual, only incidentally heterosexual
6 – Exclusively homosexual

Kinsey telah menemukan bahwa 37% laki-laki dan 13% perempuan telah menunjukkan sebuah pengalaman homoseksual yang bersifat overt hingga titik orgasme; lebih jauh lagi, ditemukan bahwa 10% laki-laki ternyata kurang lebih berada pada skala homoseksual eksklusif. Sekitar 8% laki-laki ternyata homoseksual eksklusif setidaknya sepanjang tiga tahun dengan rentang umur 16 dan 55. Sementara itu pada perempuan ditemukan 2-6% melaporkan perilaku dan pengalaman homoseksual eksklusif. Terdapat setidaknya 4% laki-laki dan 1-3% perempuan menyadari dirinya sebagai homoseksual eksklusif setelah masa pubertas.

Pada tahun 1951, Clellan Ford dan Frank Beach menerbitkan buku Patterns of Sexual Behavior menemukan bahwa homoseksualitas ternyata ditemukan di berbagai budaya di dunia dan bahkan juga hadir dalam spesies hewan. Dengan penemuan ini, makadapat disimpulkan bahwa homoseksualitas sendiri hadir secara alamiah dan tersebar luas di berbagai budaya.

Dari bidang psikologi, sebuah studi yang sangat mengejutkan dihasilkan oleh Evelyn Hooker. Hooker menunjukkan hasil tiga test proyektif (TAT, MAPS, dan Rorschach) dari tiga puluh orang lelaki homoseksual yang didapatkan dari Mattachine Society dan tiga puluh orang lelaki heteroseksual. Kedua kelompok ini dikelompokkan lagi berdasarkan IQ, umur dan latar belakang pendidikan. Untuk kepentingan hasil penelitian, Hooker menerapkan kriteria responsen bahwa para lelaki dari kedua kelompok tidak boleh pernah mendapatkan bantuan psikologis, sedang dalam masa terapi, pernah dipenjara, pernah berada dalam barak militer, ataupun menunjukkan bukti adanya gangguan kejiwaan.

Hasil test proyektif ini diserahkan kepada tiga ahli di dalam tes proyektif dengan enam puluh profil psikologis yang tidak diberitahukan orientasi seksualnya. Ketiga ahli ini adalah Bruno Klopfer yang ahli dalam tes Rorschach yang dikenal dapat mengidentifikasi homoseksualitas, Edwin Shneidman, pencipta dari MAPS sendiri dan Mortimer Mayer yang bahkan memeriksa ke enam puluh profil hingga dua kali, namun ketiganya berkesimpulan sama: bahwa mereka gagal membedakan kedua kelompok. Hasil studi Hooker menunjukkan bahwa para psikolog yang telah berpengalaman sekalipun tidak dapat membedakan hasil test antara homoseksual dan heteroseksual.serta tidak ada perbedaan antara fungsi mental keduanya.Hasil studi ini akhirnya dipresentasikan di tahun 1956 di Chicago dalam konvensi American Psychological Association. National Institute of Mental Health sangat terkesan dengan hasil penelitian Evelyn Hooker sehingga mendapatkan penghargaan untuk melanjutkan hasil karyanya yang telah mengubah sikap dalam komunitas psikologi terhadap homoseksual. Hasil studi ini pula yang mempengaruhi keputusan APA untuk menghapus homoseksualitas di tahun 1973.

Homoseksualitas sendiri telah dimasukkan ke dalam gangguan mental di DSM-1 pada tahun 1952 sebagai gangguan kepribadian sosiopath, dikarenakan dianggap melanggar norma masyarakat. DSM-II yang diterbitkan pada tahun 1968, menjadikan homoseksualitas sebagai daftar kelainan seksual, namun tidak dimasukkan sebagai gangguan kepribadian. Penerbitan DSM-II ini berbenturan dengan kemunculan gerakan hak homoseksual. Kerusuhan Stonewall pada tahun 1969 yang berdarah menjadi sebuah momentum tersendiri. Setelah berhasil menantang usaha polisi dan pemerintah untuk menutup tempat umum dimana para gay berkumpul, aktivis gay dengan segera menantang para psikiater.

Sebelum kejadian Stonewall, aktivis gay telah menerima pandangan medis mengenai homoseksualitas sebagai gangguan kejiwan. Pandangan abnormalitas ini berarti menerima homoseksualitas sebagai penyakit sehingga diharapkan dapat diperlakukan sebagai sebuah cacat, daripada sebuah dosa agama ataupun amoralitas agar dapat diperlakukan dengan sikap lebih manusiawi dan objektif.

Akan tetapi generasi baru dari aktivis gay melihat pandangan medis dan psikiatris ini sama bermasalahnya dengan pandangan agama. Penolakan terhadap hak asasi mereka masih terjadi yang mana semakin memperbesar prasangka antihomoseksual di masyarakat, menyebabkan ancaman hebat bagi kesejahteraan homoseksual. Akhirnya, terjadilah konfrontasi terhadap APA yang dilakukan oleh aktivis homofil di beberapa pertemuan tahunan antara 1970 dan 1972. Sebagai hasil dari aktivis gay terus menerus melakukan protes di pertemuan tahun 1970 dan 1971, maka akhirnya digelarlah sebuah presentasi yang mendukung gay pada tahun 1972. Pada pertemuan ini John Fryer, MD muncul dalam sebuah panel dengan karyanya berjudul “Psychiatry: Friend or Foe to Homosexuals?” yang diselenggarakan oleh aktivis gay Barbara Gittings dan Frank Kameny, yang muncul bersama Fryer serta bersama Judd Marmor, M.D. seorang psikiater heteroseksual dan pendukung penghapusan homoseksualitas dari diagnosis.

Di saat itu, Dr.Fryer muncul sebagai Dr.H. Anonymous, menyamar dengan tuksedo yang berukuran kebesaran dan menggunakan sebuah topeng untuk menyamarkan identitasnya. Dia mengejutkan para penonton psikiater dengan menyatakan dalam sebuah suara yang diubah, “I am a homosexual. I am a psychiatrist.” Dia lalu menjelaskan dengan menggambarkan kehidupannya sebagai seorang psikiater gay yang tertutup dan harus hidup dalam sebuah bidang yang masih menganggap homoseksualitas sebagai gangguan kejiwaan. Inilah pertama kalinya seorang psikiater gay berani menampilkan dirinya di antara rekan sejawatnya.

Kelompok pro dan kontra homoseksual pun semakin terlihat jelas di kalangan komunitas psikiatri. Beberapa anggota APA menunjukkan hasil penelitian yang mendukung bahwa homoseksualitas ada dalam jumlah banyak orang yang menunjukkan fungsi psikologis yang normal dan berada di dalam berbagai budaya. Dr. Robert Spitzer dan anggota lainnya dari Satuan Tugas APA setuju untuk bertemu dengan kelompok aktivis gay yang menunjukkan bukti ilmiah dan meyakinkan untuk mempelajari lebih lanjut mengenai homoseksualitas. Penelitian selanjutnya akhirnya meminta bahwa homoseksualitas dihapuskan dari DSM di dalam sebuah proposal. Proposal ini akhirnya disetujui oleh Dewan Penelitian dan Perkembangan APA, Komite Referensi, dan Perwakilan Cabang Distrik sebelum akhirnya diterima oleh Board of Trustee dari APA pada Desember 1973. Organisasi profesi kesehatan jiwa lainnya seperti American Psychological Association dan National Association of Social Workers akhirnya menyetujui aksi ini.

Beberapa anggota APA, terutama para ahli psikoanalisa terus memaksakan pandangan patologis mengenai homoseksualitas, menantang pimpinan APA dengan menyerukan referendum keanggotaan seluruh APA. Keputusan untuk menghapus homoseksualitas ditegakkan oleh suara mayoritas 58% anggota APA.

Ketika diagnosa homoseksualitas ini dihapuskan pada tahun 1973, APA tidak begitu saja menerima sepenuhnya model normal homoseksualitas (Drescher 1998, Bayer 1987, Krajeski 1996). Akibat adanya perlawanan dari pihak kontra, pimpinan APA akhirnya membuat sebuah kompromi. Kompromi inilah yang meletakkan diagnosis Sexual Orientation Disturbance (selanjutnya disingkat SOD) untuk menggantikan posisi homoseksualitas. Diagnosa SOD ini ditegakkan bagi homoseksual yang berada dalam konflik dengan orientasi seksualnya. Hal ini pun tetap memicu kontroversi tersendiri, karena tidak ada heteroseksual yang tidak bahagia dengan heteroseksualitasnya sehingga mencari perawatan untuk menjadi homoseksual. Tahun 1980 DSM-III akhirnya SOD digantikan oleh homoseksual ego distonik.

Proses revisi DSM-III terhadap homoseksual ego distonik juga memicu kontroversi besar. Dalam debat ini, anggota APA lesbian dan gay yang terbuka mengenai orientasi seksual mereka akhirnya memainkan peran penting dalam membawakan perubahan (Krajeski, 1996). Anggota APA Advisory Committee mulai mengerjakan revisi. Pihak pro dari homoseksual ego distonik berargumen bahwa diagnosis ini dapat berguna secara klinis dan penting untuk statistik dan penelitian. Pihak kontra homoseksual ego distonik menekankan bahwa membuat pengalaman subjektif klien terhadap homoseksualitas sebagai faktor penentu diagnosa mereka tidaklah konsisten dengan pendekatan berdasarkan bukti yang telah dianut oleh psikiatri. Pihak kontra berargumen bahwa data empiris tidak mendukung diagnosa ini sehingga tidaklah pantas untuk memberikan label budaya yang bersifat homophobik sebagai gangguan kejiwaan itu sendiri. Komite APA setuju dengan pihak kontra dan diagnosa homoseksual ego distonik dihapuskan dari DSM-III-R pada tahun 1987.

Perubahan ini mendukung American Psychological Association dan kelompok kesehatan jiwa lainnya untuk melakukan depatologisasi homoseksualitas. APA bahkan menyatakan bahwa diskriminasi terhadap pekerjaan akibat orientasi seksual sebagai irasional di tahun 1988, APA juga telah menentang penolakan dari militer diakibatkan orientasi seksual pada tahun 1990. Di tahun 1992, APA mendorong setiap anggotanya untuk turut aktif dalam kasus-kasus terkait orientasi seksual dan menolong pencegahan kasus-kasus ini agar tidak terus terjadi. APA bahkan mengeluarkan sebuah pernyataan menentang semua jenis perawatan psikiatri yang mencoba mengubah orientasi seksual pasiennya. Di tahun 2000, APA bahkan berani mendukung hubungan sesama jenis. Dua tahun kemudian, APA mendukung adopsi anak untuk pasangan homoseksual. Pada tahun 2005, APA mendukung sepenuhnya pernikahan sesama jenis dan hak pasangan homoseksual untuk menikah.

Langkah ini diikuti oleh American Psychoanalytic Association (APsaA) pada tahun 1991 menentang diskriminasi terhadap gay dan seleksi kandidat pelatihan mereka menjadi lebih inklusif terhadap semua orientasi seksual. Tahun 1997, ApsaA mendukung pernikahan sesama jenis dan menegaskan bahwa terapi untuk mengubah homoseksual menentang prinsip mendasar dari perawatan berbasiskan psikoanalisis pada tahun 2000. Dua tahun kemudian, ApsaA juga menolak diskriminasi terhadap orientasi seksual di dalam mengadopsi anak. World Health Organization dengan ICD-10nya menghapus homoseksualitas pada tahun 1992 dan hari inilah yang akhirnya dikenal sebagai International Day Against Homophobia oleh komunitas gay di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Semua perubahan positif bagi homoseksual ini tetap memicu kontroversi dari pihak anti homoseksual, sekelompok kecil psikolog dan psikiater terus berjuang melawan homoseksualitas. Mereka tetap kokoh pada pendapat bahwa homoseksualitas adalah sebuah disfungsi, abnormalitas yang dapat disembuhkan. Kelompok ini terutama berasal dari National Association for Research and Therapy of Homosexuality (selanjutnya disingkat NARTH).

Upaya Penyembuhan Homoseksual : Benarkah Mereka Berhasil?

Banyaknya klaim dari NARTH dan kelompok pendukung terapi penyembuhan homoseksual lainnya mengenai kesuksesan terapi mereka mengubah orientasi seksual seringkali dibantah dengan lebih banyaknya laporan mengenai orang yang gagal berusaha untuk menjadi heteroseksual dan justru mengalami banyak masalah dan tekanan psikologis di dalam proses yang diharapkan membawa penyembuhan.

Sebagai respons terhadap debat publik mengenai upaya penyembuhan orientasi seksual, American Psychological Association membentuk Task Force on Appropriate Therapeutic Responses to Sexual Orientation yang melakukan tinjauan kepada karya ilmiah terkait terapi-terapi yang berusaha mengubah orientasi seksual ini. Termasuk kepada terapi-terapi yang dilakukan oleh pihak NARTH dan pihak-pihak lainnya yang mendukung terapi perubahan orientasi seksual.

Tahun 2009, Task Force ini melaporkan adanya masalah serius pada metodologi penelitian di area terapi ini, yang mana menunjukkan hanya sedikit studi memenuhi standard minimal untuk mengevalusi perawatan psikologis yang efektif.

Berdasarkan tinjauan kepada hasil penelitian yang dianggap memenuhi standard ini, Task Force menyimpulkan bahwa:

“Perubahan orientasi seksual yang menetap sangatlah jarang. Para responden dalam penelitian ini terus mengalami atraksi sesama jenis setelah upaya perubahan orientasi seksual dan tidak melaporkan perubahan signifikan ketertarikan kepada lawan jenis yang dapat divalidasi secara empiris, meskipun beberapa menunjukkan berkurangnya gairah fisiologis semua rangsangan seksual. Bukti menarik dari penurunan perilaku seksual sesama jenis dan terlibat dalam perilaku seksual dengan jenis kelamin yang lain sangatlah jarang. Beberapa penelitian memberikan bukti kuat bahwa perubahan yang dihasilkan dalam kondisi laboratorium dihasilkan ke kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, hasil penelitian secara ilmiah menunjukkan bahwa tidak mungkin bahwa orang akan dapat mengurangi ketertarikan kepada sesama jenis atau menambah atraksi seksual lainnya-seks melalui upaya perubahan orientasi seksual.”

Sebagai respon terhadap laporan Task Force, American Psychological Association akhirnya mengeluarkan resolusi pada tahun 2009 yang menyatakan bahwa tidak adanya bukti pendukung untuk menggunakan intervensi psikologis dalam mengubah orientasi seksual.

Sumber Perilaku Abnormal Homoseksual

Jika homoseksual normal dan tidak ada terapi yang dapat mengubah seorang homoseksual menjadi heteroseksual, lalu mengapa begitu banyak penelitian yang menunjukkan kerentanan individu homoseksual dengan masalah kejiwaan?

Semua penelitian yang telah disebutkan sebelumnya di atas, menyoroti lebih jauh bahwa orientasi seksual bukanlah sebagai faktor resiko masalah kejiwaan itu sendiri. Memiliki orientasi seksual kepada sesama jenis tidak serta-merta membuat seseorang menjadi rentan terhadap masalah kejiwaan. Faktor lingkungan sosial yang homofobik dan memberikan tekanan minoritas kepada kelompok homoseksual yang menjadi penyebab tingginya distress sehingga memicu gangguan kejiwaan (Polders et al, 2009). Faktor sosial ini antara lain adalah kurangnya social support, tidak adanya keterbukaan atas orientasi seksual yang semakin mengurangi kemungkinan mendapatkan social support, victimization dalam bentuk hate speech dan physical victimization.

Internalized homophobia juga seringkali menjadi potensi untuk munculnya masalah kejiwaan (Szymanski & Kashubeck, 2008). Internalized homophobia dapat dijelaskan melalui konsep stigma dan prasangka Allport (1954) yang melihat internalized homophobia sebagai reaksi homoseksual terhadap stigma ke dalam dirinya sendiri yang mana individu homoseksual ini mengidentifikasi diri sesuai dengan kepercayaan kebanyakan heteroseksual di masyarakat. Internalized homophobia memicu kebencian kepada diri sendiri dan menyebabkan banyak masalah kesehatan fisik dan kejiwaan (Newcomb & Mustanski, 2010).

Jadi sangatlah jelas bahwa permasalahan kesehatan pada homoseksual justru lebih banyak disebabkan oleh nilai-nilai budaya dan faktor lingkungan sosial yang menolak keberadaan mereka. Perkembangan kepribadian yang sehat membutuhkan dukungan sosial yang positif dan memungkinkan individu untuk mengaktualisasikan potensinya tanpa ada halangan, tekanan dan diskriminasi. Selama halangan, tekanan, dan diskriminasi ini terus hadir di dalam masyarakat, maka selama itu pula individu homoseksual akan terus mendapatkan permasalahan yang lebih berat dalam kehidupannya dibandingkan individu heteroseksual. Sebaliknya, homoseksual yang telah berhasil menerima diri mereka dan mendapatkan dukungan orang sekitar mereka justru dapat menjadi sosok yang sukses dan bahkan menginspirasi. Inilah bukti nyata bahwa homoseksualitas bukanlah bentuk abnormalitas itu sendiri, namun tekanan sosial dapat memicu perilaku bermasalah dan masalah kesehatan fisik dan jiwa pada homoseksual.

Referensi :
Allport, G. (1954). The nature of prejudice. Reading, MA: Addison-Wesley.
Bayer, R. (1987). Homosexuality and American Psychiatry: The Politics of Diagnosis. Princeton: Princeton University Press.
Drescher, J. (1998). Psychoanalytic Therapy and the Gay Man. New York: The Analytic Press.
Drescher, J. & Merlino, J.P., (2007). American Psychiatry and Homosexuality: An Oral History. Harrington Park Press. Ford, C.S. & Beach, F.A. 1951. Patterns of Sexual Behavior. New York: Harper & Row.
Gonsiorek, J. C. (1995). Gay male identities: Concepts and issues. In A. R. D’Augelli & C. J. Patterson (Eds.). Lesbian, gay, and bisexual identities over the lifespan: Psychological perspectives (pp. 24-47). New York: Oxford Press.
Hire, R.O. 2007. An interview with Frank Rundle, MD. In American Psychiatry and Homosexuality: An Oral History, ed. J. Drescher, J.P. Merlino, 115-130. New York: Harrington Park Press.
Hooker, E. (1956). A preliminary analysis of group behavior of homosexuals. Journal Of Psychology. Vol 42 pp 217-25.
Hooker, E. (1957). The adjustment of the male overt homosexual. Journal of Projective Techniques .Vol 21 pp 18-31.
Jellison, W. A., & McConnell, A. R. (2003). The Mediating Effectsof Attitudes Toward Homosexuality Between Secure Attachment and Disclosure Outcomes Among Gay Men. Journal of Homosexuality, Vol. 46(1/2), pp. 159 – 177
Kinsey, A.C., W.B. Pomeroy, C.E. Martin. (1948). Sexual Behavior in the Human Male. Philadelphia, PA: W.B. Saunders.
Kinsey, A.C., W.B. Pomeroy, C.E. Martin, P.H. Gebhard. (1953). Sexual Behavior in the Human Female. Philadelphia, PA: W.B. Saunders.
Krajeski, J. (1996). Homosexuality and the mental health professions. In Textbook of Homosexuality and Mental Health, ed. R. Cabaj& T. Stein, 17-31. Washington: American Psychiatric Press.
Macdonald, R. & Cooper. T. (1998), Young Gay Man and Suicide : A Report of A Study Exploring Which Young Men Give for Suicide. Youth Studies Australia. Vol.17 (4), pp 23 – 27
Newcomb, M.E. & Mustanski, B. (2010). Internalized homophobia and internalizing mental health problems: A meta-analytic review. Clinical Psychology Review. Vol 30. pp 1019–1029
Pharr, S. (1988).Homophobia: A weapon of sexism. Little Rock: Chardon.
Poulders, L.A (2009), Factors affecting vulnerability to depression among gaymen and lesbian women in Gauteng, South Africa. South African Journal of Psychology, Vol 38(4), pp.673-687
Siever, M.D (1994). Sexual orientation and gender as factors in socioculturally acquired vulnerability to body dissatisfaction and eating disorders. Journal of Consulting & Clinical Psychology, Vol 62, pp: 252-260.
Spitzer, R L. 1973. A proposal about homosexuality and the APA nomenclature: Homosexuality as an irregular form of sexual behavior and sexual orientation disturbance as a psychiatric disorder. American Journal of Psychiatry Vol 130 pp 1214-1216.
Stokes, J. P., & Peterson, J. L. (1998). Homophobia, self-esteem, and risk for HIV among African-American men who have sex with men. AIDS Education and Prevention, Vol 10, pp 278-292
Szymanski, D. M., & Kashubeck-West, S. (2008). Mediators of the relationship between internalized oppressions and lesbian and bisexual women’s psychological distress. The Counseling Psychologist. Vol 36, pp 575−594.
Tiggemann, M., Martins, Y., & Kirkbride, A. (2007). Oh to be lean and muscular: Body image ideals in gay and heterosexual men. Psychology of Men and Masculinity, Vol 8(1), pp 15-24
http://psychology.ucdavis.edu/rainbow/html/facts_changing.html. Attempts to Change Sexual Orientation. diakses pada tanggal 11 Oktober 2013.

———————————————————————————————————-

Artikel ini digunakan untuk UTS Psikologi Klinis, sebagai bentuk KEPRIHATINAN saya dengan paradigma psikopatologi terhadap homoseksualitas yang masih bertahan di Indonesia.

Sumber : http://rainbowrevival.blogspot.co.id/2013/10/mempertanyakan-kembali-normalitas.html

 

Menarik banget baca postingan dia. Ilmiah banget, didukung dengan referensi yang lengkap dan menunjukkan perilaku homoseksualitas dari sudut psikologi dan medis. Dengan merebaknya isu LGBT saat ini, gue rasa kita semua harus berempati dan bukan hanya mendeskriminasikan kondisi yang ada saat ini.

Kebetulan juga gue dapet nih komentar dari Professor Sarlito, guru besar Fakultas Psikologi UI (copas dari facebook beliau, linknya dari sini)

Komentar saya (Prof.  Sarlito):
Tulisan seperti tersebut di atas hanya bisa dibuat oleh seorang yang sangat peduli pada masalah diskriminasi terhadap LGBT. Referensinya luar biasa untuk seorang mahasiswa Psikologi (sayang saya tidak temukan namanya).

Tulisannya menjelaskan lebih jauh tentang bagaimana proses terjadinya pengakuan dari para ahli psikiatri dan psikologi bahwa LGBT bukan lagi tergolong gangguan jiwa, namun saya tetap tidak sepaham untuk membolehkan LGBT menikah secara legal. Di satu pihak kita berusaha berempati kepada mereka dengan cara meningalkan paradigma heteroseks (karena mereka punya paradigma sendiri), di lain pihak kita tetap memberlakukan paradigma heteroseks (upacara perkawinan, janji pernikahan, mengundang teman dan keluarga, baju pengantin, makan-makan dll) untuk melegalkan hubungan mereka.

Saya kira sebaiknya mereka dibiarkan menggunakan cara-cara mereka sendiri. Tanpa menikahpun mereka bisa tetap saling mencinta dan bercinta. Jangan berpikir tentang dosa dan berzina, karena itu balik lagi ke paradigma kita (padahal heteroseks pun banyak banget yang berzina, kan?). Kalau hendak punya anak asuh silakan saja, tidak usah dilegalkan juga, karena cinta antara anak asuh dan bapak/ibu pengasuhnya akan mengikat hubungan emosi antara keduanya, sehingga pada usia tua kelak akan ada anak asuh yang akan merawatnya.

Gue bukan anak Psikologi, jadi gue hanya bisa copy paste dan men-share kan artikel yang menurut gue bagus ini.

Gue nemu juga artikel Prof. Sarlito yang di tampilkan di Koran Sindo, 31  Januari 2016.

LGBT

Sarlito Wirawan Sarwono  ;  Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia              KORAN SINDO, 31 Januari 2016

Minggu-minggu terakhir ini di Universitas Indonesia (UI) sedang heboh soal lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Pasalnya, ada kelompok mahasiswa yang menamakan dirinya Support Group and Resource on Sexuality UI (SGRC UI) yang membuka konseling gratis untuk para penyandang LGBT di UI.

Reaksi sebahagian warga UI langsung menolak keras, dengan alasan jangan sampai LGBT masuk kampus. Rektor pun menyatakan bahwa SDRC UI bukan organ resmi yang diakui UI, bahkan Menristek Muhamad Nasir melarang diskusi tentang LGBT di seluruh kampus di Indonesia.

continued…

 

COMING OUT STORIES

Buat sebagian gay, coming out adalah hal yang istimewa, termasuk gue. Soalnya coming out itu membuka salah satu fase didalam hidup, dimana ada orang yang dekat dengan kita tahu jati diri kita sebenarnya. Diluar negeri sekalipun coming out masih jadi hal yang istimewa, tapi biasanya mereka ngelakuin coming out ke orang tua mereka (gue liat video coming out di youtube). Kalo coming out ke teman dekat, kayaknya di luar negeri sudah jadi hal yang biasa.

Gue sendiri sudah coming out ke sahabat gue. Dia cewek, kita dulu pernah satu kantor bareng. Kebetulan gue pernah janji sama diri gue sendiri, kalo gue pindah kantor gue bakalan ngaku ke dia jati diri gue yang sebenarnya #halah. Tapi sebelum gue coming out, gue udah bener-bener mastiin kalo dia bakalan nerima gue dan ga bakalan ninggalin gue.

So, kalo lo mau coming out apa aja sih yang mesti lo lakuin?

Pertama, lo harus bener-bener pastiin kalo temen lo itu emang mau nerima keadaan lo sebagai pribadi yang Baik. Nerima lo apa adanya, meskipun lo itu gay, lesbi, atau yang lain. Lo pastiin dia itu orang yang bisa nyimpen rahasia, dan bukan orang atau temen yang “sekadar butuh disaat lo happy” doang tapi emang bener-bener temen yang ada disaat lo lagi jatuh juga.

Kedua, pastiin juga lo bukan temen gay pertama dia. Kenapa ini juga penting, soalnya orang yang sudah pernah punya temen gay biasanya mereka bisa lebih terbuka menerima lo sebagai gay juga. Jadi temen gue ini sudah sering cerita dia punya temen gay. Dia cerita ga cuma sekali tapi beberapa kali. Meskipun dia cerita pun ga ada maksud atau tujuan buat “kasih idenditas” temennya yang gay itu, dia cuma sekadar cerita aja. Tapi dari situ gue jadi tau, kalo dia sudah biasa berteman sama temen gay.

Ketiga, orang yang terbuka. Yang unik dari temen gue ini, kalo lagi ngumpul ngobrol bareng temen gue becandanya kocak dan kadang “rada porno”. Porno disini bukan berarti dia buka baju telanjang didepan gue (yailah kagak napsu juga sama cewek! haha) tapi dia bisa ikutin alur becanda. Hebatnya lagi selama pacaran sama cowok dia tetep teguh jaga prinsip buat jaga keperawanannya dia (sama kaya gue yang tetep perawan sampe saatnya dibawa nikah ke Belanda) buat suaminya nanti. Dia cerita bakalan ML cuma buat orang yang dia sayangi. Kebanyakan cewek di Indonesia kan mereka itu pribadi yang tertutup. Buat becanda porno mereka merasa ga sesuai sama norma dan etika yang ada. Zaman sekarang ini,cewek sudah mulai terbuka juga kok. Kitanya kudu pinter-pinter milih buat terbuka sama cewek yang memang sesuai dan punya pemikiran yang sama.

Keempat, yang terpenting sih siapin mental lo apapun yang bakalan terjadi. Mulai lah dengan memancing-mancing masa tentang hubungan dengan pasangan ke dia. Kaya gue kemarin, udah ga tahan banget gue pancing dengan cerita gue yang usaha deketin cewek. Sedikit demi sedikit sampai suatu momen lo bilang kalo sebenernya lo juga suka sama cowok. Siapin mental lo apapun yang terjadi. Lo harus siap, meskipun nanti ternyata dia ga suka dan menghindari lo. Makanya pentingnya berhati-hati dalam coming out, jangan ke sembarangan orang.

Kalo lo siap, lo bisa coming out ke keluarga lo. Kalo lo siap ya tapi risikonya gede banget. Paling parah lo bakalan ditendang dari rumah dan ga bakalan bisa balik lagi ke rumah. Tapi gue yakin kok sekejam keluarga pasti mereka juga sayang ke kita. Pilihannya bisa aja keluarga lo bakalan menolak dan ngebawa lo ke dokter/psikiater/psikolog/ahli jiwa/orang pinter/ustadz dll biar sembuh. Kesempatan lainnya, keluarga lo bakalan nerima lo dengan tangan terbuka. Hal yang paling indah yang diinginkan setiap gay di Indonesia (tapi sulit banget terwujud).

Kalo ga siap, lo bisa coba coming out ke sahabat deket lo.

Kalo ga ada dan ga siap ya udah ga usah coming out.

So, kapan lo siap buat coming out?

Jangan dipaksa buat coming out juga ya gays.

Share ya gays kalo lo punya cerita coming out.

Note : postingan kali ini teristimewa buat sahabat gue tersayang, inisial CNN (kaya stasiun tv aja) yang tetep nerima gue apa adanya, tetep dengerin curhatan gue tiap hari, dan tetep usaha biar gue bisa suka sama cewek dan nikah suatu saat nanti.

Thank you ({}) :* ({}) :* ({}) :*

Pernikahan dan Seks Sesama Jenis

Kayaknya lagi heboh banget yah pernikahan gay ini.

Menurut gue pribadi, hal ini udah basi dan ga bakalan ada habisnya buat dibahas.

So, gue pengen share aja sedikit tulisan yang ga sengaja gue temuin di internet.

Judulnya menurut gue sedikit menggelitik.

Religius tapi toleran LGBT, bisakah?

Buka linknya disini yah.

Poin pembuka pada tulisan tersebut

Saya percaya bahwa dua orang yang saling jatuh cinta semestinya tidak boleh dipisahkan. Entah karena berbeda agama atau karena sama jenis kelamin

Penutupnya, hampir sama

Entah karena berbeda agama atau karena sama jenis kelamin. Mencintai, jatuh cinta dan jadi bodoh bersama-sama adalah kebahagiaan yang selayaknya dirasakan tiap orang. Apapun agama dan orientasi seksnya.

Intinya adalah @Arman_Dhani mencoba untuk memisahkan agama dari tulisannya. Meskipun dia tidak bisa menyangkal berdasarkan buku Homoerotika didalam kajian buku Scott Siraj al-Haqq KuggleHomosexuality in Islam (2010) bahwa apa jadinya jika homoseksuallitas tanpa sodomi adalah hal yang mustahil. Artinya homoseksual bisa ditoleransi tanpa seks. Tapi cinta tanpa seks adalah hal mustahil.

Saya sendiri bingung pada kondisi yang saya alami.Ketika kecil kita sudah menyukai jenis yang sama. Lantas siapa yang harus disalahkan?

Sampai saat ini ketika berdekatan dengan wanita saya masih terus mencoba dan mencari hal yang menarik dan bisa membuat saya “horny” pada wanita tapi saya malah bingung dan tetap tidak bisa tertarik secara seksual. Lantas harus kepada siapa saya mengadu, ketika rasa dan dorongan seksual saya akan lebih sensitif ketika bertemu dengan pria lain.

Ketika banyak yang beranggapan bahwa seks dengan sesama jenis merupakan sebuah fantasi dan variasi didalam hubungan seksual. Saya rasa orang tersebut belum pernah merasakan rasanya jatuh cinta kepada sesama jenis sejak kecil. Coba rasakan, pasti akan bingung dan penasaran. Mengutip tulisan diatas,

Saya percaya bahwa dua orang yang saling jatuh cinta semestinya tidak boleh dipisahkan. Entah karena berbeda agama atau karena sama jenis kelamin

(HARUSKAH) MENIKAH

Gays, cerita menikah itu ga bakalan ada habisnya yah.

Lagi banyak banget temen gue yang mau nikah.

Menjelang umur mendekati 25 seakan-akan jadi momok buat wanita dan pria lajang di Indonesia, dan “menikah” bakalan jadi salah satu cerita yang ga ada habisnya.

Do you want to merried ?

Kalo ada orang yang tanya hal itu ke gue, jujur gue ga yakin bakalan jawab,“YES”.

Tapi kalo ada yang tanya :

Do you want have a kids?

Yes, I want,” 

Thats my answer.

I want to have a children, but for merried I’m not sure.

Bukan gara-gara ga ada cewe yang bisa gue gebet. Sorry, gue masih nyoba deket sama cewek. Tapi takut gue masih “berselingkuh” dibelakang dia.

Okelah, so many people say “kalo lo homo dan pengen normal coba deh nikah”.

Tapi, ga sekali dua kali gue ketemu Daddy beristri dan beranak yang main sama cowok juga.

So, nikah bukan jalan buat lo jadi normal…. tapi gue rada setuju kalo nikah itu salah satu cara mengurangi aktifitas gay.

So, mana yang ini lo pilih?

Married with your partner

OR

Pergi keluar negeri dan menikah seperti mereka ?

That’s your life.

That’s your choice.