Bisakah Gay Menikah?

hH

Sumber : Pinterest

Eid Mubarak!

Selamat  merayakan hari nan fitri!

Maaf ya kalo selama baca blog gue ada yang marah, tersinggung, jengkel, kesel gara-gara baca blog gue.Maap lahir batin.

Wah kenapa nih gue mendadak jadi agamis gini.Jadii momen lebaran adalah momen istimewa buat seluruh keluarga berkumpul. Bukan cuma keluarga muslim aja yang kumpul, momen lebaran tahun ini yang bertepatan dengan libur panjang anak sekolah, ditambah adanya cuti libur dari kantor, membuat sebagian besar orang mudik pulang kampung buat bertemu sama keluarganya atau malah mudik ke kota  dari kampung buat ketemu keluarganya. Memang gak semua orang bisa menikmati  berkumpul dengan keluarga, Puji Tuhan gue bisa kumpul  tiap  tahun disaat liburan lebaran ini.

So, ngapain aja sih biasanya kalo kumpul lebaran?

Paling umum adalah bertanya basa basi “KAPAN?”

pertanyaan-tanpa-akhir1

Momok yang buat sebagain besar kaum seperti  kita paling malas buat menjawab adalah PACAR SIAPA SEKARANG, atau KAPAN NIKAH. Ya, pertanyaan yang kadang gue sendiri bingung menjawabnya. Pengen dijawab, iya nikah. Nikah sama LAKIK. *besoknya dipecat jadi anak*

Capek sih dengan pertanyaan gak penting kaya gitu. Gue sendiri akhirnya ngeles, alibi belum mapan lah, alibi pengen S2 lah, alibi pengen nyenengin diri sendiri dulu lah, dan macem-macem alesan.

So, ada gak sih sebenarnya solusi buat kaum gay buat menghentikan jawaban itu? Gue mau coba share aja nih ya.

  1. Lo bisa coba buat deketin cewek, dan nikah. Beruntung buat kamu biseks, kenal dan dekat sama cewek adalah solusi paling konkrit yang berujung lo nikah sama tu cewek. Selama lo masih nafsu sama lain jenis, masih bisa menikah dan punya keluarga,seperti keluarga normal lainnya. Bahagia? Beberapa orang gue liat bisa bahagia dengan keluarganya. Tapi, gak sedikit juga yah kaum biseks yang masih asik main dengan sesama jenis diluar rumah mereka. So, bisa jadi solusi? Menurut gue, sebagai kaum ke-Timur-an yang mengaku beragama, menikah adalah salah satu usaha buat menjalankan kewajiban agama dan membahagiakan keluarga. Meskipun gak sedikit juga yang malah menderita setelah berkeluarga. Cek aja di berita, ada berapa keluarga yang bunuh diri, membunuh istri, atau suami  atau malah orang tua mereka gara-gara ketidakharmonisan keluarga mereka.
  2. Menikah dengan pasangan sejenis lo. Kalau udah terbuka dan coming out, lo bisa kenalin pacar atau pasangan lo. Bisa mengikat hubungan kearah serius, dengan menikah di luar negeri atau sekedar  tunangan aja. Tapi perlu dicatat, kalo lo  lakuin hal ini kalau emang udah beneran coming out dan udah siap budeg gak dengerin omongan orang lain termasuk keluarga besar lo. Kalau lo gak siap dengan konsekuensi dinyinyirin, diomongin orang dan keluarga, sampe dihindari keluarga mending poin ini dicoret dari hidup lo.
  3. Bersikap budeg dan ngeles kalau lo belum ada rencana nikah dalam waktu dekat. Sikap yang gue ambil, pura-pura cuek, bodoh dan gak dengerin orang lain sama sekali. Alesan aja belum punya pacar. Belum mapan. Mau lanjutin pendidikan S2 atau S3.  Masih mau nyenengin ortu. Masih mau travelling, buat diri sendiri. Dan seribu alasan lain. Toh, lo ketemu keluarga setaun sekali kan? Kalau tiap hari ya udah. Mending diem aja kalau ditanya, cukup SENYUM SEMANIS mungkin.
  4. Coba menikah dengan pasangan yang mengalami hal yang sama. Sedikit gila sih, tapi kalau emang lo itu gay coba nikah sama lesbi. Kalau lo lesbi cobalah nikah sama gay. Jadi normal? Ada dua akibatnya. Lo bisa jadi normal seutuhnya atau yah lo berdua sama-sama tahu dan menikah cuma jadi alibi keluarga biar keliatan punya pasangan nikah. Selama nikah lo bisa tetap bebas menjalin hubungan dengan pasangan diluar sana. Jahat? Mungkin sih, tapi  dulu banget gue pernah liat ada lesbi yang mencari pasangan gay buat dijadiin pasangan nikah kontrak.

So, lo boleh share gimana pengalaman ditanya “KAPAN” selama bertemu keluarga atau sodara.

Advertisements

Pilihan menjadi Biseksual

Bagi PLU, tentu tahu dan sudah merasakan gimana rasanya menjalani hubungan dengan sesama baik sekadar berteman, berpacaran dan hal paling lumrah adalah urusan ranjang. Terkadang gue sendiri berpikiran ternyata diluar sana banyak sekali orang yang sudah menikah dan ternyata PLU juga. Oh God, berapa banyak kamu PLU yang menyembunyikan identitas mereka, termasuk gue.

Dalam dunia PLU sendiri ada banyak pilihan, lo mau jadi pure gay atau biseks. Pilihan menjadi gay bukan pilihan mudah apalagi kalo lo tinggal di negara macam Indonesia, yang katanya masih menganut adat ketimuran tapi perilaku kaya bangsat semua. Pilihan jadi gay artinya lo harus siap dengan semua konsekuensi termasuk pilihan dijauhi temen lo, hingga saudara dan keluarga lo semua. Pilihan jadi biseks seringkali menjadi pilihan aman.

Why ? Apakah biseks akan selalu aman juga

Gue sendiri sempat menemui beberapa orang yang udah berumur alias Bapak-bapak yang sudah beristri dan beranak dan mereka doyan sama cowok juga. Mayoritas mengaku udah suka cowok jauh sebelum menikah, So, orientasi seksual pada dasarnya bukan dibuat asal jadi alias instan. Pasti ada latar belakang kenapa mendadak seorang pria suka sama pria juga. Keluarga yang kurang harmonis adalah gejala paling lumrah yang gue temuin ketika bercerita dengan PLU. Mostly mengaku sering menjadi korban kekerasan ayahnya, atau yang parah beberapa ternyata pernah diperlakukan kekerasan seksual oleh famili mereka.

Gue sendiri akuin kalo gue gini gara-gara terlalu sering diperlakukan tidak menyenangkan oleh Ayah dan kebetulan sebagai anak bungsu yang punya kakak cewek satu sepertinya mengalami penyimpangan pergaulan juga.

Ok, lanjut. Jadi intinya pilihan biseksual dianggap sebagai pilihan teraman buat nutupin identitas gay mereka (termasuk gue). Tapi pilihan biseksual bukannya resiko. Mereka harus menjalin hubungan ganda, sama cewek dan cowok dalam waktu bersamaan. Beberapa memiliki tingkat biseksual yang berbeda (maksud gue hampir sama kaya tingkat gay seseorang).

Biseksual cenderung heteroseksual = orang yang sebetulnya hetero hanya saja setelah menikah mengalami peristiwa yang merubahnya menjadi PLU. Beberapa dipengaruhi lingkungan. FYI, kebanyakan orang dari militer, polisi adalah tipe ini. Mereka menganggap bahwa perilaku suka sesama hanya sebatas kepuasan seks semata dan mereka tetap manusia jantan dan hetero seutuhnya.

Biseksual cenderung homoseksual = kalau tipe ini biasanya mereka sempat mengalami kekerasan seksual yang menimbulkan efek traumatik yang membuat ketagihan ketika dewasa. Orang seperti ini biasanya akan memilih menikah hanya untuk menutupi perilaku menyimpang mereka, dan secara intens mereka akan mencari kepuasa bersama pria lain karena menganggap bahwa hubungan suami-istri sebatas hubungan halal di masyarakat. Sebagian memang ingin menikah hanya demi punya anak atau desakan dari famili.

Tipe diatas bukan berarti mematok semua perilaku biseksual di masyarakat. Pilihan biseksual adalah pilihan individu. Kontroversi kehadiran kaum ‘Bi’ seringkali menjadi perdebatan bahkan diantara kaum LGBT sendiri. Dari beberapa situs yang gue baca banyak yang menganggap kaum Bi sebagai kaum tengah adalah pilihan munafik, karena seringkali mereka mencemooh perilaku gay demi menutupi jati diri mereka yang asli. Tapi disisi lain mereka juga terus mencari mangsa diluar demi memenuhi hasrat terpendam yang selama ini mereka cari.

Gue sendiri mengaku sebagai kaum Bi tengah. Tapi gue jarang mau ikut peduli dengan perilaku kaum gay asli. Gue rasa terlalu jahat kalau sampai gue mencemooh mereka karena gue sendiri sering dipoisi mereka dan menikmati apa yang mereka rasakan.

Yang masih gue ga habis mengerti adalah perilaku lesbian, bukankah hubungan dengan pria jauh lebih indah dibandingkan hubungan dengan kaum wanita.

Oh tapi gue lupa gue ini pria dan gue biseksual, jadi gue suka pria atau wanita dan gue condong ke pria bukan ke wanita.

Please God!