Pro Konta LGBT

Labels are for ClothesHabis postingan gue kemarin tentang Demam LGBT di Indonesia dan (kembali) Tentang LGBT di Indonesia gue mau nulis postingan tentang pro kontra LGBT di Indonesia. Sekali lagi, referensi gue tentang LGBT dikit banget. Gue baca sih beberapa sumbernya, cuma gue nemu nih tulisan yang bagus dan menurut gue bisa diterima dengan sumber yang terpercaya.

Jadi, kali ini gue nemu lagi tulisan dari Mba Wuwun, seorang psikolog tulisannya tentang LGBT : Antara Pro dan Kontra.

Empat huruf yang lagi booming dan cocok untuk menjadi judul tulisan.

                          Image result for lgbt

Lesbian Gay Biseks Transeksual. Empat kata ini juga yang mampu membuat saya mengetik di blog ini lagi sebagai tulisan pertama di bulan Februari 2016. Entah kenapa, kadang saya lupa bahwa blog ini adalah rumah yang cocok untuk menuangkan uneg-uneg.

Betul ini judulnya uneg-uneg. Setiap hari di telephon gengam, ting tung ting tung obrolan by whatsap, Facebook, Twitter sosial media yang sering kali menjadi tempat orang curhat, caper dan bermodus exist. Oleh sebab itu tambah lama seperti malah dirasa seperti sebuah kontrol sosial dalam bentuk yang baru. Sudah nggak enak lagi untuk tempat bicara, terutama bicara tanpa harus takut dihakimi. Kenapa ya, ada kecenderungan sebuah topik menjadi hal yang sensitif dan berkubu-kubu? Setelah soal agama yang mengikuti serangan teroris sekarang ngomongin LGBT ini juga penuh dengan opini yang berat sebelah. Seolah-olah tidak ada ruang netral lagi.

Kamu pro atau kontra? Celakanya yang pro LGBT sering kali dihubungkan dengan sikap mendukung perluasan komunitas ini. Lalu terkait dengan aktifitas para homo gay tersebut yang dianggap seperti pedophilia dan bertujuan membuat sebanyak-banyaknya kaum hetero menjadi homoseksual. Bila homoseksual adalah negatif, maka yang pro lgbt dianggap negatif ya? Tentunya…

Salah satu sikap kontra yang paling sering muncul adalah pandangan bahwa lgbt adalah penyakit dan perlu disembuhkan. Itulah yang membuat saya yakin bahwa saya tidak kontra. Bagi saya, kaum mereka itu adalah sama saja dengan makhluk yang lain. Cara berpikir sama, cara makan sama, kebutuhan sama, dan sikap sosial yang sama saja dalam berteman dsb, hanya saja mereka lebih memilih sesamanya. Lalu, betulkah mereka penyakit? Sudah sejak belasan tahun lalu, LGBT tidak lagi tergolong dalam Gangguan kejiwaan. Oleh WHO maupun DSM yang menjadi panutan psikolog dan psikiater Indonesia, sudah masuk ke dalam orientasi seksual saja. Jadi secara ilmiah dan formil, mereka bukan tergolong ber’penyakit’. Dari sini sebenarnya inti perdebatan soal LGBT. Orang-orang yang ngotot mereka adalah penyakit, sangat yakin bahwa kaum ini bisa disembuhkan, which is, back to hetero. Orang-orang golongan ini sangat pasti bahwa penyebab LGBT adalah lingkungan.

Namun, pertanyaannya adalah lingkungan yang seperti apa? Seolah-oleh orientasi seksual seperti latah, yang bisa di drill terus menerus atau sekedar ikut-ikutan karena gaya hidup. Bagi saya, seharusnya mereka berpikir lebih jauh lagi, back to basic, kata seksual, – dipersingkat – seks. Orientasi dihubungkan dengan dorongan. Apakah dorongan seksual bisa dibelok-belokkan semudah itu? Mari kita berkaca. Saya perempuan. Saya tahu saya ogah lihat dua perempuan ciuman. Sama sekali nggak horny liat perempuan telanjang, apalagi kalau telanjangnya dengan sengaja sekamar. Yang ada saya pura-pura nggak lihat. Saya sering berpikir bila di dunia ini tidak ada laki-laki yang available, saya mending jadi jomblo daripada jadi lesbi. Nah, kalau laki-laki akan lebih kelihatan lagi. Apakah dia bisa ereksi dengan lawan jenis? Kalau dia nggak nafsu, sampai kapan pun, dia itu adalah homo sejati. Di sini kita sudah tidak boleh mencampurkan antara homo, lesbi dan biseks.

Ngomong-ngomong, melantur dikit ke khusus soal biseks. Banyak golongan kontra LGBT bahkan nggak tahu bedanya homo, lesbi dan trans. Mereka juga kadang lupa memasukkan biseks dimana, atau lalai memikirkan keberadaan biseks. Biseks dicampur dengan homo dan lesbi. Buat saya  biseks sebaiknya dicoret dalam diskusi karena cuma bikin repot. Secara sosial, biseks ini tidak akan banyak bermasalah dalam masyarakat. Kata Bi, jelas-jelas menunjukkan bahwa dia homo sekaligus hetero. Jadi kaum biseks  bisa saja nikah dengan lawan jenis dan bisa punya anak. Urusan dia punya pacar sejenis di belakang, urusan sembunyi-sembunyi saja. Lebih jauh lagi, biseks ini mungkin yang membuat rancu, pada saat seseorang yang merasa homo ternyata bisa jatuh cinta dan nafsu dengan lawan jenis. Saya barusan saja bertanya, jangan-jangan kaum kontra yang yakin bahwa homoseksualitas bisa dibelokkan adalah karena kasus mereka biseks yang saat awal konsultasi hanya mengenali diri dari segi homonya?

Nah, lanjut lagi soal nafsunya… si nafsu ini sebetulnya adalah istilah simpel yang berkaitan dengan pandangan asal mula penyebab homoseksualitas. Kaum kontra yakin bahwa homoseksualitas lebih karena bentukan lingkungan dan bukan biologis. Kaum pro yakin bahwa homoseksulitas lebih kuat di faktor biologis. Secara keilmuan, sejauh yang saya tahu masih tidak ada penelitian yang menjelaskan secara gamblang dimana presentase yang paling besar. Tapi Anda boleh menyangkal saya, karena biarpun saya psikolog, saya tidak berkecimpung di dunia konseling klinis. Namun sebelum menepis semua pemikiran saya, tolong teliti kembali acuan yang Anda pakai, karena percayalah, saat ini banyak psikolog yang memanfaatkan situasi. Sama seperti profesi lain, tidak semua psikolog kompeten dalam bidang ini. Bila keseharian dia ngurusin seleksi pegawai atau ngomongin tingkah laku artis, sudah deh, belum tentu dia punya waktu baca tentang LGBT yang ilmiah. Banyak di antara mereka bahkan kelihatannya nggak punya kontak sama sekali dengan kaum ini. Jadi anggap saja saya sama dengan psikolog yang asal bunyi, tapi saya berani bertaruh, paling tidak, belum ada peneliti Indonesia yang melakukan penelitian ilmiah dengan metode yang benar tentang seluk beluk penyebab homoseksualitas.

Dengan dasar kenihilan segi keilmiahan, saya hanya akan bercerita dari segi pengalaman saya. Saya dikeliling kaum gay dan lesbi sejak tahun-tahun pertama kuliah. Beberapa sahabat saya sampai sekarang pun ada dari kaum ini. Saya mengikuti perkembangan kehidupan mereka bertahun-tahun. Dalam psikologi, mungkin bisa digolongkan dalam longitudinal reseach. Semua dari mereka mulai menyadari bahwa mereka hanya tertarik dengan lawan jenis sejak mereka masih kecil, sekitar di Sekolah Dasar. Kuatnya dorongan ini meningkat saat memasuki SMP. Yang lesbi, berkata bahwa ada desiran saat di ruang ganti olah raga. Yang gay, malah lebih jelas lagi. Hampir semuanya mencoba pacaran dengan lawan jenis karena begitulah norma di Indonesia. Tetapi mereka mengaku tidak ada perasaan apapun. Satu teman gay saya pernah cerita bahwa hal yang dilakukan dengan mantan gadis-gadisnya paling-paling memegang payudara mereka tetapi dia tidak terdorong untuk melakukan ciuman. Dari sini bisa dilihat bahwa ketertarikan seksual muncul dari dalam dirinya, toh si pacar sebetulnya tidak akan menolak untuk macam-macam, kalau tidak mana boleh payudaranya dipegang? Sebelum akhirnya coming out, mereka biasanya pernah berusaha jatuh cinta dengan lawan jenis. Teman lesbi saya itu malah pernah betul-betul goyah, benci dengan dirinya karena sebagai kristian yang taat dia merasa berdosa dan pernah bimbingan dengan pendeta. Tapi ya tidak bisa. Di Prancis ini saya punya teman yang mengaku bahwa aslinya dia adalah lesbi tetapi lalu menikah. (catatan, perempuan lebih mudah tunduk pada tekanan sosial dan karena posisi seksual bisa pasif jadi bisa lebih tertutupi). Dia bilang suaminya baik dan mereka hidup bahagia dengan cucu-cucu mereka. Namun si nenek ini berkata bahwa dari segi seksual dia tidak pernah mengalami kepuasan, semua semata demi si suami. Jadi saya kasih tahu ya.. teman saya ini nenek-nenek dan menikah sudah puluhan tahun, tidur seranjang, apakah masih bisa dikatakan bahwa dorongan seksual itu bisa dibelokkan? Atau jangan-jangan suaminya kurang ganteng haha.

Kaum kontra yang percaya dorongan seksual bisa dibelokkan, bertindak lebih jauh lagi. Ingin menterapi semua homoseksual supaya menjadi hetero. Boleh saya tanya, bagaimana wujud terapinya? Salah satu kerabat saya bilang, harus si pelaku punya motivasi berubah. Ok. Lalu? konseling secara menyuluruh. Ok masuk akal. Lalu yang dorongan seksual? Katanya pakai terapi hormon. Hmmm… what kind of hormon? Sampai sini kita belum bicara tentang Transeksual. Kaum kontra disinyalir melupakan detil bedanya homoseksualitas dengan transeksual. Homoseksualitas, pelaku merasa seperti tampilan fisiknya. Homoseks merasa dia laki-laki, seperti lesbian merasa  perempuan. Sedangkan transeksual, mereka merasa tubuhnya tidak sama dengan identitas gender. Makanya mereka berusaha merubah penampilan fisik. Setahu saya hormon dipakai dalam kasus ini. Waria menyuntikkan hormon Estrogen supaya kulitnya halus, pita suara melembut, dan bulu-bulu berkurang. Jadi hormon adalah untuk penampilan fisik. Kalau ketertarikan seksual, dimana letaknya, itu jadi pertanyaan saya. Karena secara lebih dalam, homoseksual dan lesbian, mereka juga punya pengolongan. Misalnya dalam lesbian ada yang menjadi ‘pria’ alias buchi, atau femme alias ‘perempuannya’, Lalu terapi hormonnya, gimana? Yang buchi dikasih hormon untuk jadi lebih perempuan.. maybe.. kalau yang mau insaf yang femme, apa terus dikasih hormon laki-laki?

Selain soal terapi, Diperbincangkan juga tingkah laku kaum homo yang seolah mengekspos dan mengajak masyarakat menjadi homo, terutama kalangan anak kecil. Menurut saya, ini lagi-lagi pencampur adukan berbagai hal. Perilaku homoseksual yang menjadikan anak kecil sebagai objek seks, tidak bisa hanya ditarik garis dari sisi homoseksualitasnya, tetapi harus lebih menyorot aspek pedophilia. Pedophilia inilah yang merupakan tindakan kriminal. Seperti halnya di negara barat, pedophilia bisa dihukum penjara. Bila di Indonesia, masih ada satu dua orang yang menikahi anak-anak dibawah umur dan bisa lolos dari hukum, akan sama saja, hetero maupun homoseks yang menyebarkan perilaku seks tidak pada tempatnya.

                                          Image result for seksual

Saya pribadi percaya, orang-orang yang terhitung LGT (sepertinya sudah sepantasnya saya hilangkan huruf B) merasakan beratnya hidup sebagai kaum mereka. Dengan demikian, mereka tidak berkeinginan untuk mengajak yang  hetero pindah orientasi seperti mereka (seandainya orientasi seksual mudah dibelokkan). Sebuah percakapan dengan satu sahabat saya beberapa tahun lalu setelah kelahiran anak laki saya satu-satunya:
“Lo tahu betapa sayangnya gue sama elo. Gue dukung cara hiduplo mau gimana pun. Gay atau bukan, lo sama di mata gue. tetapi kenapa ya, jangan marah.. terkadang gue berpikir bahwa gue nggak kepingin anak gue ini jadi gay. Kayaknya gue nggak tahu harus seperti apa bila itu terjadi…”
Jawabannya justru membuat saya lega:
“Nggak usah merasa bersalah. Ibu gue juga pasti ingin punya anak hetero. Gue pun kalau dalam posisi lo, akan berharap hal yang sama agar anak gue hetero. Itu pasti karena berat hidup seperti ini.”

Pernyataan hidup mereka berat apakah juga sesuatu yang lebay? Terlepas dari judgement bahwa itu pilihan hidup mereka, sebagai homoseksual dan transeksual memang bisa terdeteksi dengan mudah letak kesulitannya. Bayangkanlah bila kamu berbeda dari orang-orang di sekitar kamu, jelas-jelas kamu akan dihujani oleh pandangan menyelidik. Kamu jadi harus bertingkah secara ‘proper’. Menahan diri untuk mengetahui batasnya. Penerimaan kaum ini meskipun di dunia barat masih belum merata. Dari pernyataan beberapa orang kenalan, di Prancis yang sudah melegalkan perkawinan sejenis sejak tahun 2014, tetap saja ditemui homophobie. Sikap kurang berkenan masih kerap di temui di kota kecil atau desa. Memang hukum melindungi hak mereka, tetapi sebagai makhluk yang hidup di dunia sosial pasti perlakuan sekitar akan masuk ke dalam hati. Secara natural pun, kaum ini relatif lebih ‘stagnan’ dalam tahap-tahap hubungan, aka kehidupan secara keseluruhan. Terdapat level yang membedakan sedikit, misalnya lesbian masih bisa memiliki anak biologis bila melalui in vitro. Homoseksual tidak bisa. Kebanyakan mereka memelihara anjing sebagai ‘anak’. Hal ini masih terus menjadi perdebatan dari segi legalitasnya di manapun, termasuk negara yang melegalkan perkawinan. Oleh sebab itulah, para kaum ini terlihat tidak ‘dewasa-dewasa’. Kehidupan mereka memang cenderung seperti single seumur hidup, meski dalam keadaan berpasangan. Salah satunya lebih menonjol dalam dunia ‘ke-fisik-an’.

Pada akhirnya, pantaskah kita kontra? Atau justru kita sebenarnya pro? Di sini, muncul pertanyaan baru, apa definisinya pro dan kontra? Sebatas mana pro dikatakan pro? Apakah sikap yang menerima keberadaan lgbt, ataukah mendukung perluasan komunitas ini ataukah sampai pada dukungan pada sistem hukum pernikahan sejenis? Bagaimana bila orang itu menerima keberadaan LGBT tetapi tidak memandang perlu pernikahan sejenis ada. Orang ini masuk golongan apa? Lalu si kontra, sejauh mana bisa dikatakan kontra, sekedar tidak suka bila sampai ada tindakan perluasan spt ke anak-anak (aka pedophilia), atau mendukung orang yang ingin jadi hetero atau justru sampai yang ekstrim, menganggap lgbt penyakit? Pengolongan yang tidak jelas, akan membuat kubu-kubu dengan pertarungan yang abstrak. Seperti sebuah link yang isinya sama tetapi penulisnya ditulis berbeda, dua duanya dengan bergelar psikolog – pasti hoax. Sama halnya dengan forum diskusi (yang sering menjadi debat), dengan kutipan masing-masing dari tokoh yang mendukung pandangan mereka, misalnya yang TV One itu, pakar religi mengutip Einstein tentang ilmu pengetahuan tak lepas dari agama. Nanti bisa saja, kubu lain mengutip Sigmund Freud yang menyatakan pada dasarnya semua manusia adalah biseks. Pada level ini, lgbt bukan suatu bahasan objektif, bisa saja berselubung nuansa ilmiah tetapi lebih mengarah pada propaganda. Ayo masukkan LGBT kembali dalam golongan gangguan jiwa, ayo sembuhkan semua mereka. Ini bukan diskriminasi, tetapi mereka yang tak ingin sembuh adalah orang-orang yang tak pantas hidup di Indonesia.. hayoo… Ayo kasih lgbt pernikahan legal karena bla bla bla. Padahal kebanyakan LGBT mungkin hidup tanpa disorot saja sudah senang kok.

Masing-masing berhak bersikap, tentu saja. Sesuai dengan nilai dan kehidupan pribadi. Saya sendiri tidak tahu masuk golongan pro atau bukan. Dari kacamata pribadi, saya melihat saya netral atau abstain. Yang pasti saya menerima keberadaan mereka namun mendukung terapi bagi yang ingin menjadi hetero (cat: ada kata ingin, tetapi bukan sesuatu yang dipaksakan) Dan sebagai ibu, saya tidak juga ingin penyebaran LBGT ini, bila memang ada upaya ke situ. But above of all, saya pribadi yakin bahwa penyebaran tidak semudah itu. Bayangkan apa jadinya negara barat, seperti Prancis ini dimana homoseksual dan transeksual bisa menikah di gereja, kenapa tidak semua orang menjadi homo? Lagi-lagi, soal pilihan dan ketertarikan seksual.

Sikap individu ini di Indonesia cukup didominasi agama. Banyak yang menyakini bahwa agama bisa membuat yang homo menjadi hetero. Betulkah?

Kembali saya cuma mengajak kritis saja. Agama yang mana? Apa definisi agama di sini? Cangkupannya apakah hanya Islam dan Kristen? Tidakkah di Indonesia, agama ada enam. Hindu, Budha, Konghucu apakah juga menentang?

Dari situ harus diluruskan dulu. Karena kalau kita bicara secara umum haruslah umum, tidak hanya sebenarnya mewakilkan satu atau dua saja. Sejujurnya kata agama yang sering di pakai di Indonesia, menyempit mengacu pada agama besar, Islam dan Kristen, Mungkin saja memang bisa, saya tidak tahu. Saya sendiri hanya tahu teman saya yang dulu itu. Dia ‘berobat’ pada pendetanya. Motivasi berubahnya besar sekali tetapi tetap tak bisa. Ada satu teman lainnya yang gay tetapi berasal dari keluarga Islam taat. Saya tahu persis dia gay karena saya bisa menyebutkan nama pacar prianya yang pernah secara sembunyi ada. Nah, si teman saya ini sampai sekarang pun masih single padahal gantengnya minta ampun dan pintar. Saya lihat dia sekali-kali muncul ke publik dengan ‘pacar’ perempuan. Tapi saya tahu dia akan begitu saja. Lagipula, kalau kita mau jujur, dalam lingkungan agama yang terdalam pun, dalam gereja sesekali terdengar kasus pendeta gay, seperti yang dikirim Prancis tahun lalu ke Vatican. Atau di negara Islam, Afganistan etc, ada fenomena bici baca. Saya tidak menyangkal kemungkinan agama bisa mengerem munculnya perilaku homoseksualitas atau transeksualitas, tetapi saya kurang yakin bila agama masuk dalam faktor utama.

Sebagai penutup, saya minta maaf bila saya malah bikin semua jadi abu-abu. Saya memang paling suka mengajak berpikir dan kurang tertarik dengan propaganda. Pikiran saya hanya biarkan saja LGBT seperti yang ada. Jangan kita melakukan generalisasi sampai kehilangan inti permasalahan. Bila yang ditakutkan adalah penyebaran dan masa dengan anak-anak, maka kasusnya beralih dari LGBT ke pedhopilia. Urusan penerimaan, silahkan diterima atau anggap mereka tidak ada. Tidak perlu melakukan gerakan besar-besaran dengan memasukkan golongan ini kembali ke kategori lama sebagai gangguan psikologi. Karena siapa yang mau membiayai mereka semua melakukan pengobatan ke psikolog dan psikiater? Berapa banyak psikolog dan psikiater yang kompeten dalam hal ini? Bila kondisi tidak siap dengan konsekuensi ini, malah pengolongan resmi ke dalam ‘gangguan’ hanya akan membuat sikap judgmental lingkungan. Sekarang saja hidup mereka sudah banyak yang sembunyi-sembunyi akibat ketidak nyamanan, mau diapakan lagi? Tidak perlu memang dipaksakan adanya pernikahan sejenis jika masyarakat tidak siap, cukup misalnya mengakomodir kebutuhan prisipal mereka untuk hidup tenang, misalnya pasangan LGBT ini bisa mendaftar agar dalam hal medis bisa diperlakukan seperti pasangan. Ini contoh bagi yang belum pernah mendengar: bahwa dalam tindakan medis, saat satu pasangan tidak sadar, maka pasangan lain tidak berhak karena bukan suami istri dan tidak ada hubungan darah. Ini concern yang cukup penting sebagai manusia.

                                         Image result for lgbt

Kalau tetap saja bersikap tidak mau peduli dengan mereka, sebaiknya jangan terlalu kontra. Kenapa? Karena tambah kontra suatu masyarakat, komunitas LGBT akan semakin tertekan dan termarginal. Lalu bantuan akan datang dari Internasional. Bagaimanapun LBGT ini secara hukum internasional sudah tidak dianggap gangguan atau penyakit, jadi atas nama HAM pasti akan terbantu. Sekarang saja salah satu asosiasi internasional dibawah Unesco sudah mengucurkan 101 M bagi komunitas LBGT di Asia agar bisa hidup lebih maksimal. Nah, silahkan kalian sendiri yang tentukan, mau tetap kontra atau tambah kontra atau mengurangi kadar kontra? Tambah kontra, bantuan akan lebih banyak datang. Nanti malah gondok sendiri….

Sambil copy paste tulisan Mbaknya, saya kembali lagi membaca. Tulisan yang menarik, dari salah seorang psikolog Indonesia yang lama tinggal di Perancis. Bahkan untuk negara Perancis yang sudah melegalkan pernikahan sejenis, homofobia masih kerap terjadi di masyarakat. Pro kontra terjadi karena melihat LGT dari dua sisi, produk lingkungan, atau biologis.

Padahal dalam penciptaan produk homoseksual tentu bukan hanya karena faktor lingkungan. Yah, Mbak Wuwun menggambarkan di luar negeri, dimana pernikahan sejenis sudah legal saja jumlah LGT tidak meledak. Hanya saja, kembali lagi ketika dibenturkan dari segi agama maka hal ini juga menimbulkan kontra….

Yuk baca postingan berikutnya

 

Advertisements